Selasa, 11 November 2014

Karya Tulis Stres pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Stres pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Latar Belakang Masalah
     Stres memang hal yang sering dipandang biasa oleh masyarakat, apalagi pada tahap perkembangan remaja. Stres pada masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa ini dianggap wajar karena mereka dianggap sedang beradaptasi dengan kerasnya dunia realita. Tanpa mengetahui dengan jelas pengertian, gejala, penyebab dan dampak dari stres, masyarakat tengah mengabaikan kondisi ini. Padahal “secara global, kasus bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua seluruh dunia di kalangan remaja berusia 15-19 tahun, dengan sekurangnya 100.000 remaja bunuh diri setiap tahun” (Priscillia, 2012, para. 7).    
     Benar bahwa setiap individu pasti akan mengalami stres dalam hidupnya. Namun, apakah individu tersebut mampu melewati masa-masa itu, tergantung dari pribadi itu sendiri dan pengaruh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya, Maka dari itu, pribadi masing-masing dan masyarakat perlu mengerti benar tentang stres. Tujuannya, agar dapat membantu orang-orang di sekitar ataupun diri sendiri, khususnya remaja, dalam mengatasi tekanan stres dan meminimalisir dampak yang berbahaya dari stres.

Stres
     Menurut McGraith (dikutip dalam Weinberg & Gould, 2003, p. 81), stres adalah “a substantial imbalance between demand (physical and/or psychological) and response capability, under conditions where failure to meet that demand has importance consequences”. Ahli-ahli lain juga mengartikan stres sebagai “the condition in which person-environment transactions lead to a perceived discrepancy between the physical or psychological demands of a situation and the resources of the individual’s biological, psychological, or social systems” (Lazarus & Folkman; Lovallo; Singer & Davidson; Trumbull & Appley dikutip dalam Sarafino, 2002, p. 71). Dengan kata lain, stres adalah kondisi yang dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan atau kegagalan seseorang dalam memenuhi tuntutan secara fisik atau psikologis.

     Jenis-jenis stres. Stres tidak selalu berhubungan dengan yang negatif. Sebenarnya terdapat dua jenis stres yaitu eustress dan distress. Eustress merupakan stres yang mampu meningkatkan kemampuan dan menantang hidup secara positif sehingga hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sementara distress merupakan stres negatif yang menyebabkan penyakit, kesedihan dan masalah dalam hidup seseorang (Mujahid, 2013).

Remaja
     Menurut Rumini & Sundari, Darajat, dan Santrock (dikutip dalam Haryanto, 2010), masa remaja terjadi dalam rentang usia 12-22 tahun. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, dalam masa ini terjadi proses pematangan fisik dan psikologis. Dengan demikian baik secara fisik, emosional, psikososial terjadi banyak perubahan dalam diri remaja.

Gejala Stres pada Remaja
     Menurut Amberg (dikutip dalam Hawari, 2001) terdapat enam tahapan stres. Tahap pertama meliputi perasaan-perasaan semangat dan senang yang berlebihan dalam melakukan suatu pekerjaan tanpa menyadari energi yang sebenarnya ikut terkuras. Tahap kedua berupa efek dari energi dari tahap pertama yang terkuras yaitu fisik yang letih, gangguan lambung, ketegangan otot-otot dan jantung yang berdetak relatif cepat. Tahap ketiga adalah keluhan-keluhan pada tahap dua yang semakin menjadi-jadi, ditambah dengan ketegangan emosional, insomnia, dan koordinasi tubuh yang terganggu.

     Berlanjut ke tahap empat, individu mulai kehilangan interest dan semangat terhadap hal-hal yang menyenangkan, tidak tanggap dan tidak mampu menjalankan rutinitas. Selain itu, menurunnya konsentrasi dan daya ingat dan munculnya rasa takut dan cemas tanpa alasan juga merupakan gejala stres dari tahap empat. Tahap kelima, karena kelelahan fisik dan mental, rutinitas yang ringan pun tidak mampu dilakukan, gangguan pencernaan dan rasa takut, cemas, panik pun semakin menjadi-jadi. Di tahapan klimaks yaitu tahap keenam, debaran jantung akan semakin kencang, sulit bernafas, badan gemetar, dingin dan berkeringat, tak ada tenaga dan akhirnya pingsan. (Amberg dikutip dalam Hawari, 2001)

Penyebab Stres pada Remaja    
     Stressor. Menurut Greenberg (1999) “a stressor is a stimulus with the potential of triggering the fight-or-flight response” (p. 7). Maksudnya adalah stimulus yang memicu stres disebut stressor. Menurut Windle dan Mason (2004) terdapat empat faktor yang menjadi penyebab stres remaja yaitu penggunaan obat-obat terlarang, kenakalan remaja, pengaruh negatif dan masalah akademis. 
     Sementara itu, menurut Walker (2002) terdapat 3 faktor penyebab stres pada remaja, yaitu faktor biologis, faktor kepribadian dan faktor psikologis dan sosial. Faktor biologis meliputi sejarah keluarga yang depresi atau bunuh diri, serta pencandu alkohol atau obat-obatan. Selain itu, kekerasan seksual atau fisik, perceraian, penyakit akut atau ketidakmampuan mental atau fisik yang diderita individu atau keluarga dan juga merupakan faktor biologis penyebab stres.

     Pribadi individu juga mampu menjadi penyebab stres, seperti tingkah laku agresif, antisosial dan obsesif. Contoh lainnya adalah ketakutan terhadap sesuatu yang tidak nyata dan penggunaan obat terlarang, Kemampuan bersosialisasi yang buruk, kepercayaan diri yang sangat rendah dan masalah dengan tidur atau makan juga terbukti dapat mengakibatkan stres. Sementara itu faktor psikologis dan sosial meliputi kehilangan orang yang dicintai ataupun konflik dengan orang-orang sekitar. Kegagalan dalam mencapai ekspetasi atau goal, pengalaman dipermalukan, hamil diluar nikah ataupun masalah keuangan dapat juga menyebabkan stres. (Walker, 2002)

Dampak Stres terhadap Remaja                                         
     Selain berpengaruh buruk terhadap kondisi psikologis, ternyata stres juga mempengaruhi kondisi fisik. Sependapat dengan Mahsun (2004), dampak dari stres dapat mengakibatkan gangguan fisik seperti kardiovaskuler, heart attack, stroke, jantung berdetak cepat tak beraturan, sakit kepala, perut dan insomnia. Daya pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas pun menurun. Disertai juga oleh perubahan tingkah laku seperti mudah marah, emosional, minum minuman keras berlebihan, depresi, merasa hampa dan merasa bermusuhan. Jika sudah parah dan berkepanjangan, stres yang berubah menjadi depresi dapat berujung pada aksi bunuh diri.

Cara Mengatasi Stres pada Remaja
     Banyak cara yang dapat dilakukan oleh remaja dalam mengatasi situasi stres, contohnya dengan memanajemen ulang rutinitas pola hidup menjadi lebih baik secara batiniah maupun lahiriah. Namun terdapat pula cara yang dianjurkan oleh Sukadiyanto (2010) untuk mengurangi stres, yaitu:

Pola makan yang sehat dan bergizi, memelihara kebugaran jasmani, latihan pernapasan, latihan relaksasi, melakukan aktivitas yang menggembirakan, berlibur, menjalin hubungan yang harmonis, menghindari kebiasaan yang jelek, merencanakan kegiatan harian secara rutin, memelihara tanaman dan binatang, meluangkan waktu untuk diri sendiri (keluarga), menghindari diri dalam kesendirian. (h. 63)

     Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres menurut Mahsun (2004) adalah membuat daftar tentang hal-hal yang membuat stres, mengawasi pikiran. Dapat juga dengan membuat perkiraan tentang sekolah dan kehidupan keluarga untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi, mengendalikan yang masih bisa dikendalikan. Penyelesaian masalah-masalah kecil juga dapat dilakukan, istirahat cukup juga penting, makan yang baik dan teratur, tidak memaksakan diri terhadap hal yang tidak bisa atau tidak ingin dilakukan. Selain itu, cari teman bicara, kenali orang-orang yang positif dan optimis, melakukan aktivitas olahraga dan kegiatan relaksasi. Bernafas secara teratur merupakan hal sederhana tapi mampu meredakan stres dan terakhir adalah menghindari obat-obatan terlarang dan alkohol.

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai stres. Stres pada remaja adalah kondisi terjadinya ketidakseimbangan atau kegagalan seseorang pada masa remaja dalam memenuhi kebutuhan secara fisik atau psikologis. Masa remaja berlangsung pada usia 12-22 tahun dan merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Tidak hanya berkaitan dengan hal yang negatif, stres juga dapat bersifat positif dalam kehidupan seseorang. Gejala stres dibagi menjadi 6 tahapan yang diawali dengan perasaan-perasaan positif yang berlebihan lalu diakhiri dengan panic attack dan akhirnya pingsan.

     Penyebab stres disebut juga stressor. Stressor dapat dipengaruhi faktor biologis, kepribadian, psikologis dan sosial. Beberapa dampak stres pada remaja dapat juga disimpulkan sebagai berikut, gangguan fisik, penurunan daya pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas, perubahan tingkah laku dan dapat berubah menjadi depresi yang berujung pada aksi bunuh diri.

     Untuk meminimalisir dampak-dampak negatif tersebut, terdapat cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu dengan menjaga pola makan, berolahraga dan relaksasi. Selain itu, dapat juga dengan melakukan hal-hal positif dan mengantisipasi hal-hal buruk. Ditambah dengan istirahat cukup, pembinaan hubungan harmonis dengan orang lain dan tentunya menjauhi stressor.
  


Daftar Pustaka
Greenberg, J. S. (1999). Comprehensive stress management (6th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Haryanto. (2010, 11 Maret). Pengertian remaja menurut para ahli. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
Hawari, H. D. (2001). Manajemen stress cemas dan depresi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mahsun. (2004). Bersahabat dengan stress. Yogyakarta: Prisma Media.
Mujahid, R. (2013, 11 April). Jenis stress. Diunduh dari http://reframepositive.com/jenis-stress/
Priscillia, E. (2012, 10 September). 1 orang tewas bunuh diri setiap 40 detik. Jaringnews. Diunduh dari http://jaringnews.com/internasional/asia/22574/-orang-tewas-bunuh-diri-setiap-detik
 Sarafino, E. P. (2002). Health psychology: Biopsychosocial interactions (4th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Sukadiyanto. (2010). Stress dan cara menguranginya. Cakrawala pendidikan, 1, 55-66. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/3706/1/06Sukadiyanto.pdf
Walker, J. (2002). Teens in Distress Series: Adolescent Stress and Depression. The center for 4-H youth development. University of Minnesota Extension Service. Retrieved from http://www.smmusd.org/Samohi/PTSA/minutes/teens/teens_in_distress.html
Weinberg, R. S., & Gould, D. (2003). Foundations of Sport and Exercise Psychology (3rd ed.). Champaign, IL: Human Kinetics.

Windle, M. & Mason A. (2004). General and Specific Predictors of Behavioral and Emotional Problems among Adolescents. Journal of Emotional and Behavioral Disorder, 12(1), 49-61. doi: 10.1177/10634266040120010601.

Rabu, 05 November 2014

Karya Tulis Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan Psikososial Anak

Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan Psikososial Anak

Latar Belakang Masalah
     Keluarga adalah “sekelompok orang yang terdiri dari suami istri dan anak-anak yang hidup bersama dengan berbagi kasih sayang, perhatian, ide, kebahagiaan maupun kesedihan dan pengalaman untuk tujuan bersama yaitu bahagia” (Brugges & Liok, dalam Elida Prayitno, 2011, h. 3). Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak masalah-masalah yang menjadi kompleks dan mempengaruhi keluarga-keluarga mengakibatkan munculnya struktur-struktur baru dalam keluarga. Pola pikir masyarakat tentang perkawinan dan perceraian sebagai awal dan akhir dari suatu keluarga juga mulai memudar. Pembentukan-pembentukan keluarga pun mulai terjadi secara sah dan tidak sah yang berujung pada perubahan struktur keluarga juga.
Salah satu bentuk struktur keluarga yang baru tapi tidak asing lagi di kalangan masyarakat adalah single parent. Keluarga bukanlah lagi merupakan “unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dalam suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.” (Depkes RI, 1998). Single parent seringkali hanya mencakup anak-anak kandung dengan seorang ibu dan seorang ayah. Struktur single parent inilah yang menjadi masalah, karena ketidakhadiran dan ketidaklengkapan peran ayah atau ibu mampu mempengaruhi perkembangan psikososial anak.

Pengertian Single Parent
     Menurut Hurlock (dikutip dalam Psychologymania, 2013),
Single parent adalah orangtua yang telah menduda atau menjanda entah bapak atau ibu, mengasumsikan tanggung jawab untuk memelihara anak-anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak diluar nikah. (Para. 2)

     Sedangkan menurut Hammer & Turner (dikutip dalam Psychologymania, 2013, para. 3), “A single parent family consist of one parent with dependent children living in the same household”. Sejalan dengan pengertian menurut Sager et al. (dikutip dalam Duvall & Miller, 1985) “single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya.” (Psychologymania, 2013). Kesimpulannya, single parent adalah keluarga dengan hanya satu ayah atau satu ibu saja, secara sendirian membesarkan anak, memelihara, mempertahankan dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri.

Penyebab Single Parent
     Perceraian. Dalam suatu perkawinan itu dibutuhkan kesepakatan untuk pembagian hak dan kewajiban dari masing-masing pihak istri maupun suami. Perceraian itu terjadi ketika salah satu atau keduanya gagal melakukan tanggung jawabnya itu. Lalu timbullah permusuhan dan kebencian sehingga tidak ada lagi jalan keluar yang dapat disepakati. Pada akhirnya salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk berpisah baik secara sah maupun tidak sah. (Haryanto, 2011)
   Kematian pasangan. Pada hakikatnya, semua manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Umur hanyalah masalah waktu sehingga kematian adalah satu-satunya hal yang pasti akan terjadi dalam suatu perkawinan. Baik karena sakit, kecelakaan, bunuh diri ataupun dibunuh, pada akhirnya salah satu pihak akan meninggalkan pasangannya menjadi single parent.
     Kehamilan di luar nikah. Di jaman modern, kasus seperti ini sangat marak dibicarakan publik. Baik penyebabnya karena seks bebas dan si pihak lelaki tidak mau bertanggung jawab untuk menikahi si perempuan ataupun karena kasus pemerkosaan.
     Keinginan untuk tidak menikah. Beberapa pria dan wanita di kehidupan modern ini, memiliki pola pikir di mana perkawinan bukanlah hal yang wajib ataupun diprioritaskan baik oleh keluarga ataupun individu itu sendiri. Ada yang memilih untuk hidup sendiri untuk menjadi wanita atau pria karier, atau karena tuntutan profesi (contoh: pastor), ataupun yang dari individu itu sendiri merasa nyaman untuk hidup single.
     Pilihan untuk mengadopsi anak. Faktor kesehatan reproduksi yang kurang bagus menjadi alasan terbesar untuk mengadopsi anak. Namun ada juga yang karena alasan social, sebagai contoh: berempati dengan anak-anak yang yatim-piatu. Keinginan untuk tidak menikah tapi ingin mempunyai keluarga kecil dapat juga menjadi salah satu alasan untuk melakukan adopsi.

Dampak Single Parent terhadap Perkembangan PsikososialAnak
     Peran orang tua sangat crucial dalam perkembangan psikososial anak. Baik sosok ayah maupun sosok ibu, dua-duanya sama pentingnya. Struktur keluarga single parent yang berbeda dari keluarga pada umumnya, tentunya menimbulkan dampak-dampak baik yang positif ataupun negatif bagi perkembangan anak.
     Dampak negatif. Terdapat tiga dampak negatif dari peran single parent terhadap perkembangan psikososial anak. Tiga dampak negative tersebut adalah
     Perubahan perilaku anak. “Children of divorce when compared to those of intact families, have higher rates of emotional and behavioral problems, higher rates of delinquency for boys, and higher levels of anxiety and depression among preschool children” (Reiss & Lee, dikutip dalam Feltey, 1995, p. 666). Sifat nakal, tidak sopan dan depresi dapat terjadi karena kurangnya waktu orang tua dengan anaknya untuk menanamkan adat istiadat atau meluangkan waktu bersama untuk bertukar pikiran. (“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014)
     Terganggunya fungsi sosial anak. Tentunya dalam lingkungan masyarakat, baik lingkungan tempat tinggal ataupun sekolah, status orang tua tidak benar-benar bisa disembunyikan. Maka besar kemungkinan terjadi adanya cemooh ataupun ejekan dari teman-teman ataupun tetangga-tetangga. Bahkan bisa berujung pada bullying yang akhirnya merusak mental si anak, menjadi kurang percaya diri atau minder, mudah depresi dan kurang interaksi dengan lingkungan sekitar. (“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014)
     Tersesat figuritas. Figur seorang ayah penting bagi anak perempuan dan figure seorang ibu juga penting bagi anak laki-laki. Sebagai contoh, anak laki-laki mempelajari peran ayah dari ibunya atau wanita lain, yang mampu berakibat buruk. Misalnya, si anak laki-laki menjadi kewanita-wanitaan atau lembut gemulai seperti ibunya, bisa juga karena tidak terbiasa dengan hadirnya laki-laki, si anak menjadi takut atau membenci laki-laki. (“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014).

     Dampak positif. Terdapat tiga dampak positif dari peran single parent terhadap perkembangan psikososial anak. Dua dampak positif tersebut adalah
     Anak terhindar dari pertengkaran orang tua. Menonton pertengkaran orang tua mampu menganggu kondisi mental seorang anak, apalagi pertengkarang yang rutin dilakukan. Anak dari single parent tidak perlu melalui moment-moment buruk seperti ini.
     Anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kepribadian kuat. Single parent akan lebih sering menyibukkan diri untuk bekerja mencari nafkah daripada mengurusi anaknya di rumah. Sehingga si anak sudah terbiasa untuk melakukan segalanya serba sendiri, tanpa harus didampingi. Sikap mandiri ini akan memudahkan pribadi si anak untuk kedepannya, yaitu lebih siap untuk mengarungi dunia luar yang keras.

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa single parent merupakan keluarga dengan dengan hanya satu ayah atau satu ibu saja dan secara sendirian membesarkan anak, memelihara, mempertahankan dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri. Kondisi single parent dapat terjadi karena perceraian, kematian pasangan, kehamilan diluar nikah, keinginan untuk tidak menikah dan mengadopsi anak.
     Ketidakhadiran salah satu sosok dari orang tua baik ayah ataupun ibu mampu mengakibatkan dampak negatif dan positif bagi perkembangan anak. Dampak negatifnya adalah perubahan perilaku anak, terganggunya fungsi sosial anak dan anak dapat tersesat figuritas, Sedangkan dampak positifnya adalah anak terhindar dari pertengkaran orang tua dan anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kepribadian kuat.


Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1998). Perawatan kesehatan keluarga petunjuk bagi perawat kesehatan. Jakarta: Penulis.

Dessy, N. S. (2012). Peran wanita single parent dalam perkembangan kompetensi emosi remaja di Salatiga. (Tesis tidak diterbitkan). Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia. Diunduh dari http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1427

Elida Prayitno. 2006. Psikologi dewasa. Padang: Angkasa Raya
Haryanto. (2011). Pengertian perceraian. Jurnal Psikologi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-perceraian/

Lenvinson, D. (1995). Single parents. In D. Levinson (Ed.), Encyclopedia of marriage and the family (Vol. 2, p. 666). New York, NY: Smin & Schuster MacMillan.

Mailany, I., & Sano, A. (2013).  Permasalahan yang dihadapi single parent di jorong kandang harimau kenagarian sijunjung dan implikasinya terhadap layanan konseling. Konselor: Jurnal ilmiah konseling, 2(1), 76-82.

Pengertian single parent. (2013, Januari). Psychologymania. Diunduh dari http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-single-parent.html

Yui. (2013, 3 Juli). Efek negatif dari single parent. HerSays. Diunduh dari http://www.hersays.com/category/Parenting/Dear-Parents/741/Efek-Negatif-Dari-Single-Parent

Minggu, 05 Oktober 2014

Blok Filsafat Day 9 - Seni, Agama, Budaya dan Peradaban Manusia

Hai teman :D hari ini lanjutan postingan yg pertemuan kemarin, bersamaan dengan yang etos kerja 


yang akan kita bahas hari ini adalah tentang...

Manusia : Seni, Agama, Budaya dan Peradaban


Hakikat Seni dan Estetika

·       Amsal Bakhtiar (2007)
seni = suatu produk peradaban manusia, suatu wilayah dan suatu kebudayaan yang diciptakan oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat.
Secara teoritis, seni / kebudayaan = manifestasi budaya manusia yang memenuhi syarat-syarat estetik.

·       Koentjaraningrat yang dikutip Andi Hakim Nasution (2007)
dalam budaya terdapat tujuh unsur yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini, yaitu :

1.       Bahasa
2.       Sistem pengetahuan
3.       Organisasi sosial
4.       Sistem peralatan hidup dan teknologi
5.       Sistem mata pencaharian hidup
6.       Sistem religi
7.       Kesenian

·       Koentjaraningrat
suatu unsur universal kesenian dapat berwujud gagasan, ciptaan, pikiran, cerita, dan syair-syair yang indah. Namun, kesenian juga dapat berwujud tindakan interaksi berpola antara seniman pencipta, seniman penyelenggara, sponsor kesenian, pendengar, penonton, dan konsumen basil kesenian. Kesenian juga dapat berupa benda-benda indah, candi, kain katun yang indah, benda-benda kerajinan dan sebagainya.

·       Surajiyo (2008)
secara praktis, seni sebagai suatu kebudayaan yang diciptakan manusia dapat dibedakan atas :

1.       Seni sastra, seni dengan alat bahasa
2.       Seni musik, seni dengan alat bunyi atau suara
3.       Seni tari, seni dengan alat grakan
4.       Seni rupa, seni dengan alat garis, bentuk, warna, dan sebagainya
5.       Seni drama atau teater, seni dengan alat kominasi sastra, musik, tari atau gerak, dan rupa.

·       Menurut The Liang Gie (2007)
seni = suatu hal yang menunjuk kepada keindahan (estetika). Berdasarkan teori umum yang berkembang tentang  keindahan, dapat dikategorikan kepada tiga besar, yaitu :

1.       Hal yang indah dan baik : keindahan sebagai suatu jenis keserasian atau ketertiban
2.       Keindahan dan kebenaran : hal yang indah sebagai suatu sasaran perenungan.
3.       Unsur-unsur keindahan : kesatuan, perimbangan dan kejelasan.

 -  Hamdani (2011) : definisi tentang keindahan dengan menunjuk kepada pandangan para ahli.

- Mortimer Adier : sifat dan suatu benda yang memberi kita kesenangan yang tidak berkepentingan yang bisa diperoleh semata-mata dan memikirkan atau melihat benda individual itu sebagaimana adanya.

- Thomas Aquinas : suatu yang menyenangkan saat dilihat.

 Aristoteles : sesuatu yang selain baik juga menyenangkan

- Charles J. Bushnell : kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang berbagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat.

- Miichelangelo : penyingkiran hal-hal yang berlebihan.

- Monroe Beardsley sebagaimana dikutip The Liang Gie (2007) : terdapat tiga unsur yang menjadi sifat dasar membuat sesuatu yang baik dan indah dalam seni

1.       Kesatuan (unity)
2.       Kerumitan (complexity)
3.       Kesungguhan (intensity)

- Supranto (2011) estetika mempelajari tentang hakikat keindahan di dalam seni. Estetika merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat indah dan buruk. Estetika (seni) memiliki sifat yang universal, berarti berlaku umum.

Hakikat Agama

ü Amsal Bakhtiar (2007) memahami kata agama berasal dari bahasa sansekerta dari kata “a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau. Jika digabungkan berarti sesuatu yang tidak kacau.

ü Menurut Hinduisme agama sebagi kata yang berfungsi memelihara integritas seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya tidak kacau.

ü Dedi Supriadi dan Juhaya S. Praja (2010) mengungkapkan, kesalehan vertikal dalam ritual dan pengakuan dokrin tidak cukup, religiusitas menuntut komitmen nilai dalam hubungan manusia secara horizontal. Ketika bersama dengan penyebaran ajaran, agama mengalami pembakuan doktrin dan pembentukan jaringan institusi. Pada tahap ini agama lebih fokus pada perkara struktur. Struktur ajaran dalam rupa pernyataan verbal maupun wacana menjadi penting, tapi juga struktur organisatoris mengalami perluasan dan perumitan.

-  Yang mengaburkan pada masa pramodern adalah idealisme “tanggung jawab “ yaitu analisis antara yang suci dan kekuasaan.

Hakikat Budaya

-         Ayi Sofyan (2010) memahami tantang budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddliayah yang berarti sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

-         Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.

-         Melvile J. Hersovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

-         Koentjaraningrat (2007) memahami budaya adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia yang belajar.

-         Yojachem berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang imateriel bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan.

-         Ciri khas yang mengambarkan kebudayaan  Indonesia :

·         Rumah adat daerah yang berbeda satu dengan lainnya.
·         Alat musik di setiap daerah yang berbeda
·         Kriya ragam hias dengan motif-motif tradisional, dan batik yang sangat beragam antar daerah tertentu, dibuat diatas media kain dan kayu.
·         Properti kesenian Indonesia memiliki beragam bentuk selain seni musi, tari, teater, wayang golek dan topeng.
·         Pakaian daerah
·         Benda seni
·         Adat isitadat

-         The Liang Gie mengatakan kebudayaan dibagi dalam tiga sistem, yaitu :
1.       Sistem lazim yang sering disebut adat istiadat
2.       Sistem sosial di mana merupakan suatu tindakan yang berpola dan manusia
3.       Sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbiasan jasmaninya.

-         Soegiri (2008) mengemukakan pandangan Melvile J. Hersovits yang menyebutkan kebudayaan memiliki empat unsur pokok, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik.

-         Bambang Sugiharto (2008) merumuskan empat prinsip dasar yang penting dalam memahami kebudayaan, yaitu :

1.       Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai dan yang ditandai. Penanda yaitu citra bunyi, sedangkan penanda yaitu gagasan atau konsep. Konsep bunyi memiliki 3 komkonen, yaitu : artikulasi kedua bibir, pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan pita suara yang tidak bergetar.
2.       Adanya acuan ke realitas objektif
3.       Permasalahan yang selau kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dengan masyarakat.
4.       Gagasan kebudayaan.

Hakikat Peradaban

Menurut Andi Hakim Nasution (2007) kebudayaan dan peradaban hanya merupakan istilah. Peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur kebudayan yang ‘harus’ dan ‘indah’. Pada sisi lain, istilah peradaban juga dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, seni kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks. Dari segi etimologis, peradaban berarti kebudayaan yang telah sampai pada tingkat jenuh, yang telah berlangsung secara terus-menerus. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya terwujud unsur-unsur budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya maka masyarakat pemilik kebudayaan itu dikatakan telah memiliki perdaban yang tinggi.

Interkoneksi ilmu Pengetahuan, Seni dan Agama dalam Prespektif, Budaya, dan Peradaban.

      1.       Prespektif Ilmu dalam Budaya
Manusia diciptakan oleh yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitu dilengkapi dengan seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran manusia mendapatkan ilmu, seperti ilmu sosial, ilmu pertanian, ilmu pendidikan,dan ilmu kesehatan.  Pada Hakikatnya manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal yang ada maupun yang sedang terjadi di sekitarnya. Pengetahuan kaidah berpikir atau logika merupakan sarana untuk memperoleh,memelihara, dan meningkatkan ilmu.

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling memengaruhi. Peranan ganda ilmu dalam pengembangan kebudayaan sebagai berikut :

a.       Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya perkembangan kebudayaan nasional.
b.       Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan waktu suatu bangsa.

Ada tujuan nilai yang terkandung dalam hakikat keilmuan, yaitu knitis, rasional, logis, objektif, terbuka, menjunjung kebenaran, dan pengabdian universal.

Langkah-langkah yang digunakan yang pada pokoknya beberapa pemikiran :

·         Ilmu merupakan kebudayaan, sehingga setiap langkah dalam kegiatan peningkatan ilmu harus memperhatikan budaya.
·         Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran
·         Asumsi dasar dan setiap kegiatan dalam menemukan kebenaran yaitu percaya dengan metode yang digunakan
·         Kegiatan keilmuan harus dikaitkan dengan moral
·         Pengembangan keilmuan harus seiring dengan pengembangan filsafat
·         Kegiatan ilmiah harus otonom dan bebas dari kekangan struktur kekuasaan.

      2.       Prespektif Budaya dan Pengetahuan dalam Peradaban
Kebudayaan dapat digunakan untuk keperluan praktis, memperlancar pembangunan masyarakat, di satu sisi pengetahuan teoretis tentang kebudayaan dapat mengembangkan sikap bijaksana dalam menghadapi serta menilai kebudayaan yang lain dan pola perilaku yang bersumber pada kebudayaan sendiri. Kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam atau suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat.

Kebudayaan tidak bisa terlepas dari peradaban. Peradaban muncul setelah adanya masa kolonialisasi di mana ada semangat untuk menyebarkan dan menanamkan peradaban bangsa kolonial dalam masyarakat jajahannya, sehingga pada masa itu antara masyarakat yang ‘beradab’ dan yang ‘kurang beradab’ dapat digeneralisasikan sebagai corak kehidupan barat vs. yang bukan barat.

      3.       Prespektif Agama dan Budaya
agama yang dibudidayakan yaitu suatu agama yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh penganutnya, sehingga menghasikan suatu karya/budaya tertentu yang mencerminkan ajaran agama yang dibudidayakan itu. Agama bukan suatun aturan yang dibuat oleh Tuhan, tetapi agama merupakan suatu kebutuhan manusia untuk kebaikan manusia. Pembudayaan suatu agama dapat mengangkat citra agama apabila pembudayaan itu dilakukan dengan tepat dan penuh tanggung jawab sehingga mampu mencermikan agamanya.

      4.       Agama sebagai Kritik Kebudayaan
Penting ditekankan bahwa agama meiliki peran sebagai kritik kebudayaan.  Kebudayaan harus dinilai dalam prespektif ke arah mana ia akan membawa manusia. Agama harus berdimensi kritis terhadap kebudayaan manusia.  Agama harus meminimalisasi kecenderungan ‘sekularisasi kebudayaan’.

-         Fungsi kritis agama harus dilakukan dengan menjauhi sikap yang sifatnya totaliter
-         Agama dalam menerangkan fungsi kritisnya secara konkret harus memiliki pengetahuan empiris yang tangguh.

      -         Agama tidak bisa bersifat politisi dalam pengertian hanya membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan kepada Tuhannya.
      -         Perlunya mendefinisikan kembali pertobatan dalam keberagaman manusia.

     5.       Produk Kebudayaan Manusia Menghasilkan Peradaban
Setiap masyarakat atau bangsa di manapun selalu berkebudayaan, tetapi tidak semuanya memiliki peradaban, peradaban merukapan tahap tertentu dan kebudayaan masyarakat tertentu yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang sudah maju. Manusia adalah makhluk yang beradab sebab dianugerahi harkat, martabat, serta potensi yang tinggi. Peradaban moral dan manusia merupakan nilai-nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.

     6.       Seni sebagai Penggerak Budaya Peradaban
Akar pengalaman estetik merupakan pengalaman keseharian. Kepekaan atas medan bentuk serta pengalaman atas gerak denyut kehidupan macam itulah akar dan kesadaran estetik dan kecenderungan berkesenian. Seni adalah segala upaya untuk memberi bentuk manusiawi pada hidup dan semesta, berbagai cara membiasakan aspirasi batin lewat penciptaan benda dan peristiwa.

Tahap Eksistensi Manusia

      A.      Tahap Estetis
Tahap estetis adalah tahap di mana orientasi hidup manusia sepenuhnya diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Manusia estetis adalah manusia yang pada akhir hidupnya hampir tidak bisa lagi menentukan pilihan, karena semakin banyak alternatif yang ditawarkan masyarakat dan jamannya.
     
      B.      Tahap Etis
Perubahan hidup dari estetis ke etis merupakan semacam pertobatan, di mana individu mulai menerima kebijakan-kebijakan moral dan memilih meningkatkan diri padanya. Manusia etis akan sanggup menolak tirani dan kuasa dari luar.

     C.      Tahap Religius
Lompatan tahap etis ke tahap religius lebih sulit karena tidak perlu pertimbangan rasional melainkan keyakinan subjektif berdasarkan pada iman. Hidup dalam Tuhan adalah hidup subjektivitas transedent, tanpa rasionalisasi atau tanpa ikatan kepada suatu yang bersifat duniawi.

Kaitan Psikologi dengan Agama
Agama bersifat dogmatis yaitu mengandung nilai-nilai yang terkait dengan keyakinan kebenaran dalam agama tidak selalu dapat diterima dengan nalar. Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama.

Tahap Budaya

      1.       Budaya dalam kaitan Psikologis
Psikologi menurut budaya yaitu perilku yang cenderung untuk mengulang-ulang bentuk-bentuk perilsku tertentu karena perilaku tersebut diturunkan melalui pola asuh dan proses belajar. Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri dari berbagai budaya. Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri dari berbagai budaya secara logis akan mengalami berbagai permasalahan,persentuhan antar budaya akan selalu terjadi karena permasalahan silang budaya selalu terkait erat dengan cultural meterialisme yang mencermarti budata dari pola pikir dan tindakan dari kelompok sosial tertentu di mana pada tempramen ini banyak ditentukan oleh faktor keturunan. Masyarakat dan kebudayaannya pada dasarnya merupakan tayangan besar dari kehidupan bersama antara individu-individu manusia yang bersifat dinamis.

     2.       Budaya dan Perkembangan kepribadian
Kepribadian manusia selalu berubah sepanjang hidupnya dalam arah-arah karakter yang lebih jelas dan matang. Perbuahan-perubahan tersebut sangat dipengaruhi lingkungan dengan fungsi-fungsi bawaan sebagai dasarnya. Selain itu, perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh semakin bertambahnya usia seseorang.

      3.       Budaya dan Konsep Diri
Konsep diri adalah organisasi dari presepsi-presepsi diri. Suatu deskripsi tentang siapa kita , mulai dari identitas fisik, sifat hingga prinsip.

      4.       Budaya dan Psikologi Indigenous
   
      5.       Perkembangan Budaya dan Aplikasi

       Menurut Prof. Kusdwiratri Setiono, ada 4 hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1.       Pengetahuan psikologi tidak dipaksa dari luar melainkan dari tradisi budaya setempat.
2.       Psikologi sesungguhnya bukan berupa tingkah laku artifisial uang diciptalan melainkan berupa tingkah laku keseharian.
3.       Tingkah laku dipahami dan diinterpretasi tidak dalam kerangka teori yang import,melainkan dalam kerangka pemahaman buday setempat.
4.       Psikologi indegenous mencakup pengetahuan psikologi yang relevan dan didesain untuk orang- orang setempat.

Psikologi indegenous selalu dikaitkan dengan penelitian dan proses indigenesasi budaya. Proses untu indegenous psychology kan suatu budaya itulah yang disebut dengn indigenisasi. Beberapa istilah indigenissasi menurut bProf. Kusdwiratri Setiono :

·         Ada kedekatan antara pendekatan indigenous dengan pendekatan psikologi lintas budaya
·         Pendekatan ini berbeda, namun sama-sama perlu digunakan secara bersamaan.
·         pendekatan ini mencakup pendekatanindigenizatin from within dan pendekatan lintas budaya mencakup indigenization from without.

Integrasi Ilmu Pengetahua, Seni, dan Budaya


Tidak semua pengetahuan dikategorikan ilmu,sebab pengetahuan itu sendiri sebagai segala sesuatu yang diketahui dan datang sebagai hasil dan aktivitas pancaindera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lwbih jauh, luas, dan dalam dan pengetahuan. 
Kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alama atau suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat, yang merupakan hasil dan manusia yang merupakan makhluk yang beradab sebab dianugerahi harkat, martabay serta potensi kemanusiaan yang tingggi. 
Agama dapat berfungis sebagai kritik seni sekaligus sebagai kritik ilmu, bahwa fungsi kritis agama harus dilakukan dengan menjauhi sikap yang sifatnya totaliter. Wujud peradaban moral dan agama merupakan nilai-nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.