Stres pada Remaja dan Cara
Mengatasinya
Latar Belakang Masalah
Stres memang hal yang sering dipandang
biasa oleh masyarakat, apalagi pada tahap perkembangan remaja. Stres pada masa
peralihan dari anak-anak menuju dewasa ini dianggap wajar karena mereka dianggap
sedang beradaptasi dengan kerasnya dunia realita. Tanpa mengetahui dengan jelas
pengertian, gejala, penyebab dan dampak dari stres, masyarakat tengah
mengabaikan kondisi ini. Padahal “secara
global, kasus bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua seluruh dunia di
kalangan remaja berusia 15-19 tahun, dengan sekurangnya 100.000 remaja bunuh
diri setiap tahun” (Priscillia, 2012, para. 7).
Benar bahwa setiap individu pasti akan
mengalami stres dalam hidupnya. Namun, apakah individu tersebut mampu melewati
masa-masa itu, tergantung dari pribadi itu sendiri dan pengaruh orang-orang dan
lingkungan di sekitarnya, Maka dari itu, pribadi masing-masing dan masyarakat
perlu mengerti benar tentang stres. Tujuannya, agar dapat membantu orang-orang
di sekitar ataupun diri sendiri, khususnya remaja, dalam mengatasi tekanan stres
dan meminimalisir dampak yang berbahaya dari stres.
Stres
Menurut
McGraith (dikutip dalam Weinberg & Gould, 2003, p. 81), stres adalah “a substantial imbalance between demand
(physical and/or psychological) and response capability, under conditions where
failure to meet that demand has importance consequences”. Ahli-ahli
lain juga mengartikan stres sebagai “the condition in which person-environment
transactions lead to a perceived discrepancy between the physical or
psychological demands of a situation and the resources of the individual’s
biological, psychological, or social systems” (Lazarus & Folkman; Lovallo;
Singer & Davidson; Trumbull & Appley dikutip dalam Sarafino, 2002, p. 71). Dengan kata lain, stres
adalah kondisi yang dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan atau kegagalan seseorang dalam
memenuhi tuntutan secara fisik atau psikologis.
Jenis-jenis stres. Stres
tidak selalu berhubungan dengan yang negatif. Sebenarnya terdapat dua jenis stres
yaitu eustress dan distress. Eustress merupakan stres yang
mampu meningkatkan kemampuan dan menantang hidup secara positif sehingga hidup
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sementara distress merupakan stres negatif yang menyebabkan penyakit,
kesedihan dan masalah dalam hidup seseorang (Mujahid, 2013).
Remaja
Menurut Rumini & Sundari, Darajat, dan
Santrock (dikutip dalam Haryanto, 2010), masa remaja terjadi dalam rentang usia
12-22 tahun. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa,
dalam masa ini terjadi proses pematangan fisik dan psikologis. Dengan demikian
baik secara fisik, emosional, psikososial terjadi banyak perubahan dalam diri
remaja.
Gejala Stres pada Remaja
Menurut Amberg
(dikutip dalam Hawari, 2001) terdapat enam tahapan stres. Tahap pertama
meliputi perasaan-perasaan semangat dan senang yang berlebihan dalam melakukan
suatu pekerjaan tanpa menyadari energi yang sebenarnya ikut terkuras. Tahap
kedua berupa efek dari energi dari tahap pertama yang terkuras yaitu fisik yang
letih, gangguan lambung, ketegangan otot-otot dan jantung yang berdetak relatif
cepat. Tahap ketiga adalah keluhan-keluhan pada tahap dua yang semakin
menjadi-jadi, ditambah dengan ketegangan emosional, insomnia, dan koordinasi
tubuh yang terganggu.
Berlanjut ke tahap empat, individu mulai
kehilangan interest dan semangat
terhadap hal-hal yang menyenangkan, tidak tanggap dan tidak mampu menjalankan
rutinitas. Selain itu, menurunnya konsentrasi dan daya ingat dan munculnya rasa
takut dan cemas tanpa alasan juga merupakan gejala stres dari tahap empat. Tahap
kelima, karena kelelahan fisik dan mental, rutinitas yang ringan pun tidak
mampu dilakukan, gangguan pencernaan dan rasa takut, cemas, panik pun semakin
menjadi-jadi. Di tahapan klimaks yaitu tahap keenam, debaran jantung akan
semakin kencang, sulit bernafas, badan gemetar, dingin dan berkeringat, tak ada
tenaga dan akhirnya pingsan. (Amberg dikutip dalam Hawari, 2001)
Penyebab Stres pada Remaja
Stressor. Menurut Greenberg (1999) “a stressor is a stimulus with the potential of triggering the fight-or-flight response” (p. 7). Maksudnya adalah stimulus yang memicu stres disebut stressor. Menurut Windle dan Mason (2004) terdapat empat faktor yang menjadi penyebab stres remaja yaitu penggunaan obat-obat terlarang, kenakalan remaja, pengaruh negatif dan masalah akademis.
Sementara
itu, menurut Walker (2002) terdapat 3 faktor penyebab stres pada remaja, yaitu
faktor biologis, faktor kepribadian dan faktor psikologis dan sosial. Faktor
biologis meliputi sejarah keluarga yang depresi atau bunuh diri, serta pencandu
alkohol atau obat-obatan. Selain itu, kekerasan seksual atau fisik, perceraian,
penyakit akut atau ketidakmampuan mental atau fisik yang diderita individu atau
keluarga dan juga merupakan faktor biologis penyebab stres.
Pribadi individu juga mampu menjadi penyebab stres, seperti tingkah laku
agresif, antisosial dan obsesif. Contoh lainnya adalah ketakutan terhadap sesuatu
yang tidak nyata dan penggunaan obat terlarang, Kemampuan bersosialisasi yang
buruk, kepercayaan diri yang sangat rendah dan masalah dengan tidur atau makan
juga terbukti dapat mengakibatkan stres. Sementara itu faktor psikologis dan sosial
meliputi kehilangan orang yang dicintai ataupun konflik dengan orang-orang
sekitar. Kegagalan dalam mencapai ekspetasi atau goal, pengalaman dipermalukan, hamil diluar nikah ataupun masalah
keuangan dapat juga menyebabkan stres. (Walker, 2002)
Dampak Stres terhadap Remaja
Selain berpengaruh buruk terhadap kondisi
psikologis, ternyata stres juga mempengaruhi kondisi fisik. Sependapat dengan
Mahsun (2004), dampak dari stres dapat mengakibatkan gangguan fisik seperti
kardiovaskuler, heart attack, stroke,
jantung berdetak cepat tak beraturan, sakit kepala, perut dan insomnia. Daya
pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas pun menurun. Disertai juga oleh
perubahan tingkah laku seperti mudah marah, emosional, minum minuman keras
berlebihan, depresi, merasa hampa dan merasa bermusuhan. Jika sudah parah dan
berkepanjangan, stres yang berubah menjadi depresi dapat berujung pada aksi
bunuh diri.
Cara Mengatasi Stres pada Remaja
Banyak cara
yang dapat dilakukan oleh remaja dalam mengatasi situasi stres, contohnya
dengan memanajemen ulang rutinitas pola hidup menjadi lebih baik secara
batiniah maupun lahiriah. Namun terdapat pula cara yang dianjurkan oleh
Sukadiyanto (2010) untuk mengurangi stres, yaitu:
Pola makan yang sehat dan bergizi,
memelihara kebugaran jasmani, latihan pernapasan, latihan relaksasi, melakukan
aktivitas yang menggembirakan, berlibur, menjalin hubungan yang harmonis,
menghindari kebiasaan yang jelek, merencanakan kegiatan harian secara rutin,
memelihara tanaman dan binatang, meluangkan waktu untuk diri sendiri
(keluarga), menghindari diri dalam kesendirian. (h. 63)
Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk
mengatasi stres menurut Mahsun (2004) adalah membuat daftar tentang hal-hal
yang membuat stres, mengawasi pikiran. Dapat juga dengan membuat perkiraan
tentang sekolah dan kehidupan keluarga untuk mengantisipasi hal-hal yang
mungkin terjadi, mengendalikan yang masih bisa dikendalikan. Penyelesaian
masalah-masalah kecil juga dapat dilakukan, istirahat cukup juga penting, makan
yang baik dan teratur, tidak memaksakan diri terhadap hal yang tidak bisa atau
tidak ingin dilakukan. Selain itu, cari teman bicara, kenali orang-orang yang
positif dan optimis, melakukan aktivitas olahraga dan kegiatan relaksasi.
Bernafas secara teratur merupakan hal sederhana tapi mampu meredakan stres dan
terakhir adalah menghindari obat-obatan terlarang dan alkohol.
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan beberapa hal mengenai stres. Stres pada remaja adalah kondisi
terjadinya ketidakseimbangan
atau kegagalan seseorang pada masa remaja dalam
memenuhi kebutuhan secara fisik atau psikologis.
Masa remaja berlangsung pada usia 12-22 tahun dan merupakan masa peralihan dari
anak-anak menuju dewasa. Tidak
hanya berkaitan dengan hal yang negatif, stres juga dapat bersifat positif
dalam kehidupan seseorang. Gejala stres dibagi menjadi 6 tahapan yang diawali dengan perasaan-perasaan positif yang
berlebihan lalu diakhiri dengan panic
attack dan akhirnya pingsan.
Penyebab
stres disebut juga stressor. Stressor dapat dipengaruhi faktor biologis,
kepribadian, psikologis dan sosial. Beberapa dampak stres pada remaja dapat
juga disimpulkan sebagai berikut, gangguan fisik, penurunan daya pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas,
perubahan tingkah laku dan dapat berubah menjadi depresi yang berujung pada
aksi bunuh diri.
Untuk meminimalisir dampak-dampak negatif tersebut, terdapat cara-cara
yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu dengan menjaga pola makan, berolahraga
dan relaksasi. Selain itu, dapat juga dengan melakukan hal-hal positif dan
mengantisipasi hal-hal buruk. Ditambah dengan istirahat cukup, pembinaan
hubungan harmonis dengan orang lain dan tentunya menjauhi stressor.
Daftar
Pustaka
Greenberg, J.
S. (1999). Comprehensive stress
management (6th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Haryanto.
(2010, 11 Maret). Pengertian remaja menurut para ahli. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
Hawari, H. D.
(2001). Manajemen stress cemas dan
depresi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mahsun. (2004). Bersahabat dengan stress. Yogyakarta:
Prisma Media.
Mujahid, R. (2013, 11 April). Jenis stress. Diunduh dari http://reframepositive.com/jenis-stress/
Priscillia, E.
(2012, 10 September). 1 orang tewas bunuh diri setiap 40 detik. Jaringnews. Diunduh dari http://jaringnews.com/internasional/asia/22574/-orang-tewas-bunuh-diri-setiap-detik
Sarafino, E. P. (2002). Health psychology: Biopsychosocial interactions (4th ed.). Hoboken,
NJ: John Wiley & Sons.
Sukadiyanto.
(2010). Stress dan cara menguranginya. Cakrawala
pendidikan, 1, 55-66. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/3706/1/06Sukadiyanto.pdf
Walker,
J. (2002). Teens in Distress Series: Adolescent
Stress and Depression. The center for 4-H youth development. University of
Minnesota Extension Service. Retrieved from http://www.smmusd.org/Samohi/PTSA/minutes/teens/teens_in_distress.html
Weinberg, R.
S., & Gould, D. (2003). Foundations
of Sport and Exercise Psychology (3rd ed.). Champaign, IL: Human Kinetics.
Windle, M. & Mason A. (2004). General and
Specific Predictors of Behavioral and Emotional Problems among Adolescents. Journal of Emotional and Behavioral Disorder,
12(1), 49-61. doi: 10.1177/10634266040120010601.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar