Selasa, 03 November 2015

analisis jurnal - Psikologi sosial

Stereotip Suku Minahasa terhadap Etnis Papua

     Dari jurnal tersebut, diteliti salah satu fenomena sosial yaitu stereotip yang dimiliki mahasiswa bersuku Minahasa terhadap Papua. Fenomena ini terjadi semenjak akulturasi (masuknya budaya) etnis Papua terhadap suku Minahasa di Sulawesi Utara dan belum terselesaikan hingga masa kini.
     Stereotip itu sendiri adalah sebuah kepercayaan tentang atribut personal mengenai sekelompok orang. seringkali stereotip di overgenerasasikan, tidak akurat, bersifat menentang informasi baru. tidak hanya negatif, stereotip juga berupa stereotip yang positif (Myers, 2010). stereotip positif yang terbentuk yaitu kepemilikan rasa persatuan, bersifat memberi, religius, setia kawan,dan sangat menghormati adat istiadat. adapula stereotip negatif yang cukup menonjol, seperti sulit untuk diajak berkomunikasi, pemabuk, suka berkelahi, dan suka mencari masalah, lambat berpikir, dan kasar. Stereotip ini terbentuk dari pengamatan para peneliti, yaitu di sekitar area kampus jarang sekali terdapat interaksi antar etnis papua, minahasa, dan suku-suku lainnya. suku- suku tersebut cenderung berkelompok dan memisahkan diri. Namun keadaan berbeda ketika mereka sedang beribadah mingguan bersama dimana mereka bisa berinteraksi satu sama lain dengan baik.
     Stereotip ini terbentuk karena beberapa faktor, antara lain: 1) faktor lingkungan sosial, seperti keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal yang memberikan pengaruh pada pembentukan stereotip, 2) faktor pengalaman individu yang membentuk stereotip informan dalam hal ini pengalaman dapat diciptakan dari cara kita menafsirkan peristiwa orang, atau benda dalam suatu peristiwa atau pengalaman yang terjadi secara terus-menerus, 3) faktor kontak pribadi yang lebih intim. Yang sangat berpengaruh dalam faktor ini yaitu, kepercayaan. Kepercayaan dapat meningkatkan komunikasi interpersonal seseorang. Berkaitan dengan fenomena dimana suku minahasa dan etnis papua dapat saling berinteraksi dengan baik saat ibadah mingguan adalah karena salah satu karakteristik budaya yaitu kepercayaan dan sikap, dapat memengaruhi sikap-sikap seseorang atau kelompok terhadap diri mereka sendiri, orang lain dan apa yang terjadi dalam dunia. Adapula faktor lain yaitu stereotip dapat merepresentasikan efisiensi kognitif, dimana dengan menggunakan stereotip sesorang dapat membuat penilaian spontan dan dapat memprediksi bagaimana orang lain berpikir atau berperilaku tanpa usaha yang bermakna (Myers, 2010).
     Stereotip yang terjadi ini dapat dihindari dengan cara menggunakan rasa empati, kemampuan beradaptasi yang baik, dan menghindari sifat etnosentrisme. Etnosentrisme itu sendiri adalah sifat mempercayai keunggulan atau superioritas dari etnis dan kelompok budaya mereka sendiri, dan memiliki pandangan yang buruk tentang kelompok budaya lainnya. Dari sifat etnosentrisme itu sendiri dapat muncul kepribadian yang authoritarian (authoritarian personality), dimana kepribadian ini dapat diartikan sebagai kepribadian yang patuh pada otoritas dan tidak memiliki sikap toleransi terhadap kelompoknya dan orang-orang diluar kelompok yang memiliki status yang lebih rendah (Myers, 2010). Hal inilah yang menyebabkan mengapa etnosentrisme perlu dihindari yang dapat memicu semakin banyaknya stereotip antar masyarakat maupun kelompok budaya.


Daftar Pustaka

Myers, D. G. (2010). Social Psychology (11th ed.). USA: McGraw Hill.

Rumondor, F.H., Paputungan, R., & Tangkudung, P. (2014). Stereotip suku Minahasa terhadap etnis Papua (studi komunikasi antar budaya pada mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Sam Ratulangi). Acta Piurna, 3(2).

Kelompok:
Salvian 705140004
Meylissa 705140019
Ingrid 705140021
Mabella 705140068
Cecilia 705140094
Cynthia 705140104

Tidak ada komentar:

Posting Komentar