Stereotip Suku Minahasa terhadap Etnis Papua
Dari jurnal tersebut, diteliti salah satu fenomena sosial yaitu stereotip yang dimiliki mahasiswa bersuku Minahasa terhadap Papua. Fenomena ini terjadi semenjak akulturasi (masuknya budaya) etnis Papua terhadap suku Minahasa di Sulawesi Utara dan belum terselesaikan hingga masa kini.
Stereotip itu sendiri adalah sebuah kepercayaan tentang atribut personal mengenai sekelompok orang. seringkali stereotip di overgenerasasikan, tidak akurat, bersifat menentang informasi baru. tidak hanya negatif, stereotip juga berupa stereotip yang positif (Myers, 2010). stereotip positif yang terbentuk yaitu kepemilikan rasa persatuan, bersifat memberi, religius, setia kawan,dan sangat menghormati adat istiadat. adapula stereotip negatif yang cukup menonjol, seperti sulit untuk diajak berkomunikasi, pemabuk, suka berkelahi, dan suka mencari masalah, lambat berpikir, dan kasar. Stereotip ini terbentuk dari pengamatan para peneliti, yaitu di sekitar area kampus jarang sekali terdapat interaksi antar etnis papua, minahasa, dan suku-suku lainnya. suku- suku tersebut cenderung berkelompok dan memisahkan diri. Namun keadaan berbeda ketika mereka sedang beribadah mingguan bersama dimana mereka bisa berinteraksi satu sama lain dengan baik.
Stereotip ini terbentuk karena beberapa faktor, antara lain: 1) faktor lingkungan sosial, seperti keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal yang memberikan pengaruh pada pembentukan stereotip, 2) faktor pengalaman individu yang membentuk stereotip informan dalam hal ini pengalaman dapat diciptakan dari cara kita menafsirkan peristiwa orang, atau benda dalam suatu peristiwa atau pengalaman yang terjadi secara terus-menerus, 3) faktor kontak pribadi yang lebih intim. Yang sangat berpengaruh dalam faktor ini yaitu, kepercayaan. Kepercayaan dapat meningkatkan komunikasi interpersonal seseorang. Berkaitan dengan fenomena dimana suku minahasa dan etnis papua dapat saling berinteraksi dengan baik saat ibadah mingguan adalah karena salah satu karakteristik budaya yaitu kepercayaan dan sikap, dapat memengaruhi sikap-sikap seseorang atau kelompok terhadap diri mereka sendiri, orang lain dan apa yang terjadi dalam dunia. Adapula faktor lain yaitu stereotip dapat merepresentasikan efisiensi kognitif, dimana dengan menggunakan stereotip sesorang dapat membuat penilaian spontan dan dapat memprediksi bagaimana orang lain berpikir atau berperilaku tanpa usaha yang bermakna (Myers, 2010).
Stereotip yang terjadi ini dapat dihindari dengan cara menggunakan rasa empati, kemampuan beradaptasi yang baik, dan menghindari sifat etnosentrisme. Etnosentrisme itu sendiri adalah sifat mempercayai keunggulan atau superioritas dari etnis dan kelompok budaya mereka sendiri, dan memiliki pandangan yang buruk tentang kelompok budaya lainnya. Dari sifat etnosentrisme itu sendiri dapat muncul kepribadian yang authoritarian (authoritarian personality), dimana kepribadian ini dapat diartikan sebagai kepribadian yang patuh pada otoritas dan tidak memiliki sikap toleransi terhadap kelompoknya dan orang-orang diluar kelompok yang memiliki status yang lebih rendah (Myers, 2010). Hal inilah yang menyebabkan mengapa etnosentrisme perlu dihindari yang dapat memicu semakin banyaknya stereotip antar masyarakat maupun kelompok budaya.
Daftar Pustaka
Myers, D. G. (2010). Social Psychology (11th ed.). USA: McGraw Hill.
Rumondor, F.H., Paputungan, R., & Tangkudung, P. (2014). Stereotip suku Minahasa terhadap etnis Papua (studi komunikasi antar budaya pada mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Sam Ratulangi). Acta Piurna, 3(2).
Kelompok:
Salvian 705140004
Meylissa 705140019
Ingrid 705140021
Mabella 705140068
Cecilia 705140094
Cynthia 705140104
WELCOME TO WOEN'S UNIVERSITY LIFE
Selasa, 03 November 2015
Selasa, 11 November 2014
Karya Tulis Stres pada Remaja dan Cara Mengatasinya
Stres pada Remaja dan Cara
Mengatasinya
Latar Belakang Masalah
Stres memang hal yang sering dipandang
biasa oleh masyarakat, apalagi pada tahap perkembangan remaja. Stres pada masa
peralihan dari anak-anak menuju dewasa ini dianggap wajar karena mereka dianggap
sedang beradaptasi dengan kerasnya dunia realita. Tanpa mengetahui dengan jelas
pengertian, gejala, penyebab dan dampak dari stres, masyarakat tengah
mengabaikan kondisi ini. Padahal “secara
global, kasus bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua seluruh dunia di
kalangan remaja berusia 15-19 tahun, dengan sekurangnya 100.000 remaja bunuh
diri setiap tahun” (Priscillia, 2012, para. 7).
Benar bahwa setiap individu pasti akan
mengalami stres dalam hidupnya. Namun, apakah individu tersebut mampu melewati
masa-masa itu, tergantung dari pribadi itu sendiri dan pengaruh orang-orang dan
lingkungan di sekitarnya, Maka dari itu, pribadi masing-masing dan masyarakat
perlu mengerti benar tentang stres. Tujuannya, agar dapat membantu orang-orang
di sekitar ataupun diri sendiri, khususnya remaja, dalam mengatasi tekanan stres
dan meminimalisir dampak yang berbahaya dari stres.
Stres
Menurut
McGraith (dikutip dalam Weinberg & Gould, 2003, p. 81), stres adalah “a substantial imbalance between demand
(physical and/or psychological) and response capability, under conditions where
failure to meet that demand has importance consequences”. Ahli-ahli
lain juga mengartikan stres sebagai “the condition in which person-environment
transactions lead to a perceived discrepancy between the physical or
psychological demands of a situation and the resources of the individual’s
biological, psychological, or social systems” (Lazarus & Folkman; Lovallo;
Singer & Davidson; Trumbull & Appley dikutip dalam Sarafino, 2002, p. 71). Dengan kata lain, stres
adalah kondisi yang dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan atau kegagalan seseorang dalam
memenuhi tuntutan secara fisik atau psikologis.
Jenis-jenis stres. Stres
tidak selalu berhubungan dengan yang negatif. Sebenarnya terdapat dua jenis stres
yaitu eustress dan distress. Eustress merupakan stres yang
mampu meningkatkan kemampuan dan menantang hidup secara positif sehingga hidup
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sementara distress merupakan stres negatif yang menyebabkan penyakit,
kesedihan dan masalah dalam hidup seseorang (Mujahid, 2013).
Remaja
Menurut Rumini & Sundari, Darajat, dan
Santrock (dikutip dalam Haryanto, 2010), masa remaja terjadi dalam rentang usia
12-22 tahun. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa,
dalam masa ini terjadi proses pematangan fisik dan psikologis. Dengan demikian
baik secara fisik, emosional, psikososial terjadi banyak perubahan dalam diri
remaja.
Gejala Stres pada Remaja
Menurut Amberg
(dikutip dalam Hawari, 2001) terdapat enam tahapan stres. Tahap pertama
meliputi perasaan-perasaan semangat dan senang yang berlebihan dalam melakukan
suatu pekerjaan tanpa menyadari energi yang sebenarnya ikut terkuras. Tahap
kedua berupa efek dari energi dari tahap pertama yang terkuras yaitu fisik yang
letih, gangguan lambung, ketegangan otot-otot dan jantung yang berdetak relatif
cepat. Tahap ketiga adalah keluhan-keluhan pada tahap dua yang semakin
menjadi-jadi, ditambah dengan ketegangan emosional, insomnia, dan koordinasi
tubuh yang terganggu.
Berlanjut ke tahap empat, individu mulai
kehilangan interest dan semangat
terhadap hal-hal yang menyenangkan, tidak tanggap dan tidak mampu menjalankan
rutinitas. Selain itu, menurunnya konsentrasi dan daya ingat dan munculnya rasa
takut dan cemas tanpa alasan juga merupakan gejala stres dari tahap empat. Tahap
kelima, karena kelelahan fisik dan mental, rutinitas yang ringan pun tidak
mampu dilakukan, gangguan pencernaan dan rasa takut, cemas, panik pun semakin
menjadi-jadi. Di tahapan klimaks yaitu tahap keenam, debaran jantung akan
semakin kencang, sulit bernafas, badan gemetar, dingin dan berkeringat, tak ada
tenaga dan akhirnya pingsan. (Amberg dikutip dalam Hawari, 2001)
Penyebab Stres pada Remaja
Stressor. Menurut Greenberg (1999) “a stressor is a stimulus with the potential of triggering the fight-or-flight response” (p. 7). Maksudnya adalah stimulus yang memicu stres disebut stressor. Menurut Windle dan Mason (2004) terdapat empat faktor yang menjadi penyebab stres remaja yaitu penggunaan obat-obat terlarang, kenakalan remaja, pengaruh negatif dan masalah akademis.
Sementara
itu, menurut Walker (2002) terdapat 3 faktor penyebab stres pada remaja, yaitu
faktor biologis, faktor kepribadian dan faktor psikologis dan sosial. Faktor
biologis meliputi sejarah keluarga yang depresi atau bunuh diri, serta pencandu
alkohol atau obat-obatan. Selain itu, kekerasan seksual atau fisik, perceraian,
penyakit akut atau ketidakmampuan mental atau fisik yang diderita individu atau
keluarga dan juga merupakan faktor biologis penyebab stres.
Pribadi individu juga mampu menjadi penyebab stres, seperti tingkah laku
agresif, antisosial dan obsesif. Contoh lainnya adalah ketakutan terhadap sesuatu
yang tidak nyata dan penggunaan obat terlarang, Kemampuan bersosialisasi yang
buruk, kepercayaan diri yang sangat rendah dan masalah dengan tidur atau makan
juga terbukti dapat mengakibatkan stres. Sementara itu faktor psikologis dan sosial
meliputi kehilangan orang yang dicintai ataupun konflik dengan orang-orang
sekitar. Kegagalan dalam mencapai ekspetasi atau goal, pengalaman dipermalukan, hamil diluar nikah ataupun masalah
keuangan dapat juga menyebabkan stres. (Walker, 2002)
Dampak Stres terhadap Remaja
Selain berpengaruh buruk terhadap kondisi
psikologis, ternyata stres juga mempengaruhi kondisi fisik. Sependapat dengan
Mahsun (2004), dampak dari stres dapat mengakibatkan gangguan fisik seperti
kardiovaskuler, heart attack, stroke,
jantung berdetak cepat tak beraturan, sakit kepala, perut dan insomnia. Daya
pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas pun menurun. Disertai juga oleh
perubahan tingkah laku seperti mudah marah, emosional, minum minuman keras
berlebihan, depresi, merasa hampa dan merasa bermusuhan. Jika sudah parah dan
berkepanjangan, stres yang berubah menjadi depresi dapat berujung pada aksi
bunuh diri.
Cara Mengatasi Stres pada Remaja
Banyak cara
yang dapat dilakukan oleh remaja dalam mengatasi situasi stres, contohnya
dengan memanajemen ulang rutinitas pola hidup menjadi lebih baik secara
batiniah maupun lahiriah. Namun terdapat pula cara yang dianjurkan oleh
Sukadiyanto (2010) untuk mengurangi stres, yaitu:
Pola makan yang sehat dan bergizi,
memelihara kebugaran jasmani, latihan pernapasan, latihan relaksasi, melakukan
aktivitas yang menggembirakan, berlibur, menjalin hubungan yang harmonis,
menghindari kebiasaan yang jelek, merencanakan kegiatan harian secara rutin,
memelihara tanaman dan binatang, meluangkan waktu untuk diri sendiri
(keluarga), menghindari diri dalam kesendirian. (h. 63)
Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk
mengatasi stres menurut Mahsun (2004) adalah membuat daftar tentang hal-hal
yang membuat stres, mengawasi pikiran. Dapat juga dengan membuat perkiraan
tentang sekolah dan kehidupan keluarga untuk mengantisipasi hal-hal yang
mungkin terjadi, mengendalikan yang masih bisa dikendalikan. Penyelesaian
masalah-masalah kecil juga dapat dilakukan, istirahat cukup juga penting, makan
yang baik dan teratur, tidak memaksakan diri terhadap hal yang tidak bisa atau
tidak ingin dilakukan. Selain itu, cari teman bicara, kenali orang-orang yang
positif dan optimis, melakukan aktivitas olahraga dan kegiatan relaksasi.
Bernafas secara teratur merupakan hal sederhana tapi mampu meredakan stres dan
terakhir adalah menghindari obat-obatan terlarang dan alkohol.
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan beberapa hal mengenai stres. Stres pada remaja adalah kondisi
terjadinya ketidakseimbangan
atau kegagalan seseorang pada masa remaja dalam
memenuhi kebutuhan secara fisik atau psikologis.
Masa remaja berlangsung pada usia 12-22 tahun dan merupakan masa peralihan dari
anak-anak menuju dewasa. Tidak
hanya berkaitan dengan hal yang negatif, stres juga dapat bersifat positif
dalam kehidupan seseorang. Gejala stres dibagi menjadi 6 tahapan yang diawali dengan perasaan-perasaan positif yang
berlebihan lalu diakhiri dengan panic
attack dan akhirnya pingsan.
Penyebab
stres disebut juga stressor. Stressor dapat dipengaruhi faktor biologis,
kepribadian, psikologis dan sosial. Beberapa dampak stres pada remaja dapat
juga disimpulkan sebagai berikut, gangguan fisik, penurunan daya pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas,
perubahan tingkah laku dan dapat berubah menjadi depresi yang berujung pada
aksi bunuh diri.
Untuk meminimalisir dampak-dampak negatif tersebut, terdapat cara-cara
yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu dengan menjaga pola makan, berolahraga
dan relaksasi. Selain itu, dapat juga dengan melakukan hal-hal positif dan
mengantisipasi hal-hal buruk. Ditambah dengan istirahat cukup, pembinaan
hubungan harmonis dengan orang lain dan tentunya menjauhi stressor.
Daftar
Pustaka
Greenberg, J.
S. (1999). Comprehensive stress
management (6th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Haryanto.
(2010, 11 Maret). Pengertian remaja menurut para ahli. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
Hawari, H. D.
(2001). Manajemen stress cemas dan
depresi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mahsun. (2004). Bersahabat dengan stress. Yogyakarta:
Prisma Media.
Mujahid, R. (2013, 11 April). Jenis stress. Diunduh dari http://reframepositive.com/jenis-stress/
Priscillia, E.
(2012, 10 September). 1 orang tewas bunuh diri setiap 40 detik. Jaringnews. Diunduh dari http://jaringnews.com/internasional/asia/22574/-orang-tewas-bunuh-diri-setiap-detik
Sarafino, E. P. (2002). Health psychology: Biopsychosocial interactions (4th ed.). Hoboken,
NJ: John Wiley & Sons.
Sukadiyanto.
(2010). Stress dan cara menguranginya. Cakrawala
pendidikan, 1, 55-66. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/3706/1/06Sukadiyanto.pdf
Walker,
J. (2002). Teens in Distress Series: Adolescent
Stress and Depression. The center for 4-H youth development. University of
Minnesota Extension Service. Retrieved from http://www.smmusd.org/Samohi/PTSA/minutes/teens/teens_in_distress.html
Weinberg, R.
S., & Gould, D. (2003). Foundations
of Sport and Exercise Psychology (3rd ed.). Champaign, IL: Human Kinetics.
Windle, M. & Mason A. (2004). General and
Specific Predictors of Behavioral and Emotional Problems among Adolescents. Journal of Emotional and Behavioral Disorder,
12(1), 49-61. doi: 10.1177/10634266040120010601.
Rabu, 05 November 2014
Karya Tulis Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan Psikososial Anak
Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan
Psikososial Anak
Latar Belakang Masalah
Keluarga adalah “sekelompok orang yang
terdiri dari suami istri dan anak-anak yang hidup bersama dengan berbagi kasih
sayang, perhatian, ide, kebahagiaan maupun kesedihan dan pengalaman untuk
tujuan bersama yaitu bahagia” (Brugges
& Liok, dalam Elida Prayitno, 2011, h. 3). Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak masalah-masalah
yang menjadi kompleks dan mempengaruhi keluarga-keluarga mengakibatkan munculnya
struktur-struktur baru dalam keluarga. Pola pikir masyarakat tentang perkawinan
dan perceraian sebagai awal dan akhir dari suatu keluarga juga mulai memudar.
Pembentukan-pembentukan keluarga pun mulai terjadi secara sah dan tidak sah
yang berujung pada perubahan struktur keluarga juga.
Salah
satu bentuk struktur keluarga yang baru tapi tidak asing lagi di kalangan
masyarakat adalah single parent. Keluarga
bukanlah lagi merupakan “unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dalam suatu atap dalam keadaan
saling ketergantungan.” (Depkes RI, 1998). Single parent seringkali hanya
mencakup anak-anak kandung dengan seorang ibu dan seorang ayah. Struktur single parent inilah yang menjadi
masalah, karena ketidakhadiran dan ketidaklengkapan peran ayah atau ibu mampu
mempengaruhi perkembangan psikososial anak.
Pengertian Single Parent
Menurut Hurlock (dikutip dalam Psychologymania,
2013),
Single parent adalah orangtua yang telah
menduda atau menjanda entah bapak atau ibu, mengasumsikan tanggung jawab untuk
memelihara anak-anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak
diluar nikah. (Para. 2)
Sedangkan menurut Hammer & Turner (dikutip dalam Psychologymania, 2013, para. 3), “A single parent family consist of one parent
with dependent children living in the same household”. Sejalan dengan pengertian menurut Sager et
al. (dikutip dalam Duvall & Miller, 1985) “single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan
anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya.” (Psychologymania, 2013). Kesimpulannya, single parent adalah keluarga dengan
hanya satu ayah atau satu ibu saja, secara sendirian membesarkan anak,
memelihara, mempertahankan dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri.
Penyebab Single Parent
Perceraian. Dalam
suatu perkawinan itu dibutuhkan kesepakatan untuk pembagian hak dan kewajiban
dari masing-masing pihak istri maupun suami. Perceraian itu terjadi ketika
salah satu atau keduanya gagal melakukan tanggung jawabnya itu. Lalu timbullah
permusuhan dan kebencian sehingga tidak ada lagi jalan keluar yang dapat
disepakati. Pada akhirnya salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk
berpisah baik secara sah maupun tidak sah. (Haryanto, 2011)
Kehamilan di luar nikah. Di jaman
modern, kasus seperti ini sangat marak dibicarakan publik. Baik penyebabnya
karena seks bebas dan si pihak lelaki tidak mau bertanggung jawab untuk
menikahi si perempuan ataupun karena kasus pemerkosaan.
Keinginan untuk tidak menikah.
Beberapa pria dan wanita di kehidupan modern ini, memiliki pola pikir di mana
perkawinan bukanlah hal yang wajib ataupun diprioritaskan baik oleh keluarga
ataupun individu itu sendiri. Ada yang memilih untuk hidup sendiri untuk
menjadi wanita atau pria karier, atau karena tuntutan profesi (contoh: pastor),
ataupun yang dari individu itu sendiri merasa nyaman untuk hidup single.
Pilihan untuk mengadopsi anak. Faktor
kesehatan reproduksi yang kurang bagus menjadi alasan terbesar untuk mengadopsi
anak. Namun ada juga yang karena alasan social, sebagai contoh: berempati
dengan anak-anak yang yatim-piatu. Keinginan untuk tidak menikah tapi ingin
mempunyai keluarga kecil dapat juga menjadi salah satu alasan untuk melakukan
adopsi.
Dampak Single Parent terhadap Perkembangan PsikososialAnak
Peran orang
tua sangat crucial dalam perkembangan
psikososial anak. Baik sosok ayah maupun sosok ibu, dua-duanya sama pentingnya.
Struktur keluarga single parent yang
berbeda dari keluarga pada umumnya, tentunya menimbulkan dampak-dampak baik
yang positif ataupun negatif bagi perkembangan anak.
Dampak negatif. Terdapat
tiga dampak negatif dari peran single
parent terhadap perkembangan psikososial anak. Tiga dampak negative
tersebut adalah
Perubahan
perilaku anak. “Children
of divorce when compared to those of intact families, have higher rates of
emotional and behavioral problems, higher rates of delinquency for boys, and
higher levels of anxiety and depression among preschool children” (Reiss
& Lee, dikutip dalam Feltey, 1995, p. 666). Sifat nakal, tidak sopan dan
depresi dapat terjadi karena kurangnya waktu orang tua dengan anaknya untuk
menanamkan adat istiadat atau meluangkan waktu bersama untuk bertukar pikiran.
(“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014)
Terganggunya
fungsi sosial anak. Tentunya dalam lingkungan masyarakat, baik
lingkungan tempat tinggal ataupun sekolah, status orang tua tidak benar-benar
bisa disembunyikan. Maka besar kemungkinan terjadi adanya cemooh ataupun ejekan
dari teman-teman ataupun tetangga-tetangga. Bahkan bisa berujung pada bullying
yang akhirnya merusak mental si anak, menjadi kurang percaya diri atau minder,
mudah depresi dan kurang interaksi dengan lingkungan sekitar. (“Efek Negatif
dari Single Parent”, 2014)
Tersesat
figuritas. Figur seorang ayah penting bagi anak perempuan
dan figure seorang ibu juga penting bagi anak laki-laki. Sebagai contoh, anak
laki-laki mempelajari peran ayah dari ibunya atau wanita lain, yang mampu
berakibat buruk. Misalnya, si anak laki-laki menjadi kewanita-wanitaan atau
lembut gemulai seperti ibunya, bisa juga karena tidak terbiasa dengan hadirnya
laki-laki, si anak menjadi takut atau membenci laki-laki. (“Efek Negatif dari
Single Parent”, 2014).
Dampak positif. Terdapat
tiga dampak positif dari peran single
parent terhadap perkembangan psikososial anak. Dua dampak positif tersebut
adalah
Anak
terhindar dari pertengkaran orang tua. Menonton pertengkaran orang tua mampu menganggu kondisi
mental seorang anak, apalagi pertengkarang yang rutin dilakukan. Anak dari single parent tidak perlu melalui
moment-moment buruk seperti ini.
Anak
menjadi lebih mandiri dan memiliki kepribadian kuat. Single
parent akan lebih sering menyibukkan diri untuk bekerja mencari
nafkah daripada mengurusi anaknya di rumah. Sehingga si anak sudah terbiasa
untuk melakukan segalanya serba sendiri, tanpa harus didampingi. Sikap mandiri
ini akan memudahkan pribadi si anak untuk kedepannya, yaitu lebih siap untuk mengarungi
dunia luar yang keras.
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa single parent merupakan keluarga dengan dengan hanya satu ayah atau
satu ibu saja dan secara sendirian membesarkan anak, memelihara, mempertahankan
dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri. Kondisi single parent dapat
terjadi karena perceraian, kematian pasangan, kehamilan diluar nikah, keinginan
untuk tidak menikah dan mengadopsi anak.
Ketidakhadiran salah satu sosok dari orang tua baik ayah ataupun ibu
mampu mengakibatkan dampak negatif dan positif bagi perkembangan anak. Dampak
negatifnya adalah perubahan perilaku anak, terganggunya fungsi sosial anak dan
anak dapat tersesat figuritas, Sedangkan dampak positifnya adalah anak terhindar
dari pertengkaran orang tua dan anak menjadi lebih mandiri dan memiliki
kepribadian kuat.
Daftar Pustaka
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. (1998). Perawatan
kesehatan keluarga petunjuk bagi perawat kesehatan. Jakarta: Penulis.
Dessy, N. S. (2012). Peran wanita single parent dalam perkembangan kompetensi emosi remaja
di Salatiga. (Tesis tidak diterbitkan).
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia. Diunduh dari
http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1427
Elida
Prayitno. 2006. Psikologi dewasa.
Padang: Angkasa Raya
Haryanto.
(2011). Pengertian perceraian. Jurnal
Psikologi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-perceraian/
Lenvinson,
D. (1995). Single parents. In D. Levinson (Ed.), Encyclopedia of marriage and
the family (Vol. 2, p. 666). New York, NY: Smin & Schuster MacMillan.
Mailany,
I., & Sano, A. (2013). Permasalahan
yang dihadapi single parent di jorong kandang harimau kenagarian sijunjung dan
implikasinya terhadap layanan konseling. Konselor:
Jurnal ilmiah konseling, 2(1), 76-82.
Pengertian
single parent. (2013, Januari). Psychologymania.
Diunduh dari http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-single-parent.html
Yui.
(2013, 3 Juli). Efek negatif dari single parent. HerSays. Diunduh dari http://www.hersays.com/category/Parenting/Dear-Parents/741/Efek-Negatif-Dari-Single-Parent
Minggu, 05 Oktober 2014
Blok Filsafat Day 9 - Seni, Agama, Budaya dan Peradaban Manusia
Hai teman :D hari ini lanjutan postingan yg pertemuan kemarin, bersamaan dengan yang etos kerja
yang akan kita bahas hari ini adalah tentang...
Manusia : Seni, Agama, Budaya dan Peradaban
Hakikat Seni dan Estetika
· Amsal
Bakhtiar (2007)
seni = suatu produk peradaban manusia, suatu
wilayah dan suatu kebudayaan yang diciptakan oleh suatu bangsa atau kelompok
masyarakat.
Secara teoritis, seni / kebudayaan =
manifestasi budaya manusia yang memenuhi syarat-syarat estetik.
· Koentjaraningrat
yang dikutip Andi Hakim Nasution (2007)
dalam budaya terdapat tujuh unsur yang dapat
ditemukan pada semua bangsa di dunia ini, yaitu :
1. Bahasa
2. Sistem pengetahuan
3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan
hidup dan teknologi
5. Sistem mata
pencaharian hidup
6. Sistem religi
7. Kesenian
· Koentjaraningrat
suatu unsur universal kesenian dapat berwujud
gagasan, ciptaan, pikiran, cerita, dan syair-syair yang indah. Namun, kesenian
juga dapat berwujud tindakan interaksi berpola antara seniman pencipta, seniman
penyelenggara, sponsor kesenian, pendengar, penonton, dan konsumen basil
kesenian. Kesenian juga dapat berupa benda-benda indah, candi, kain katun yang
indah, benda-benda kerajinan dan sebagainya.
· Surajiyo
(2008)
secara praktis, seni sebagai suatu kebudayaan
yang diciptakan manusia dapat dibedakan atas :
1. Seni sastra, seni
dengan alat bahasa
2. Seni musik, seni
dengan alat bunyi atau suara
3. Seni tari, seni
dengan alat grakan
4. Seni rupa, seni
dengan alat garis, bentuk, warna, dan sebagainya
5. Seni drama atau
teater, seni dengan alat kominasi sastra, musik, tari atau gerak, dan rupa.
· Menurut
The Liang Gie (2007)
seni = suatu hal yang menunjuk kepada
keindahan (estetika). Berdasarkan teori umum yang berkembang tentang
keindahan, dapat dikategorikan kepada tiga besar, yaitu :
1. Hal yang indah dan
baik : keindahan sebagai suatu jenis keserasian atau ketertiban
2. Keindahan dan
kebenaran : hal yang indah sebagai suatu sasaran perenungan.
3. Unsur-unsur
keindahan : kesatuan, perimbangan dan kejelasan.
- Hamdani
(2011) : definisi tentang keindahan dengan menunjuk kepada pandangan para ahli.
- Mortimer
Adier : sifat dan suatu benda yang memberi kita kesenangan yang tidak
berkepentingan yang bisa diperoleh semata-mata dan memikirkan atau melihat benda
individual itu sebagaimana adanya.
- Thomas
Aquinas : suatu yang menyenangkan saat dilihat.
- Aristoteles
: sesuatu yang selain baik juga menyenangkan
- Charles
J. Bushnell : kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang
berbagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat.
- Miichelangelo
: penyingkiran hal-hal yang berlebihan.
- Monroe
Beardsley sebagaimana dikutip The Liang Gie (2007) : terdapat tiga unsur yang
menjadi sifat dasar membuat sesuatu yang baik dan indah dalam seni
1. Kesatuan (unity)
2. Kerumitan
(complexity)
3. Kesungguhan
(intensity)
- Supranto
(2011) estetika mempelajari tentang hakikat keindahan di dalam seni. Estetika
merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat indah dan buruk.
Estetika (seni) memiliki sifat yang universal, berarti berlaku umum.
Hakikat Agama
ü Amsal
Bakhtiar (2007) memahami kata agama berasal dari bahasa sansekerta dari kata
“a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau. Jika digabungkan berarti sesuatu
yang tidak kacau.
ü Menurut
Hinduisme agama sebagi kata yang berfungsi memelihara integritas seseorang atau
sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan
alam sekitarnya tidak kacau.
ü Dedi
Supriadi dan Juhaya S. Praja (2010) mengungkapkan, kesalehan vertikal dalam
ritual dan pengakuan dokrin tidak cukup, religiusitas menuntut komitmen nilai
dalam hubungan manusia secara horizontal. Ketika bersama dengan penyebaran
ajaran, agama mengalami pembakuan doktrin dan pembentukan jaringan institusi.
Pada tahap ini agama lebih fokus pada perkara struktur. Struktur ajaran dalam
rupa pernyataan verbal maupun wacana menjadi penting, tapi juga struktur
organisatoris mengalami perluasan dan perumitan.
- Yang mengaburkan pada masa pramodern adalah
idealisme “tanggung jawab “ yaitu analisis antara yang suci dan kekuasaan.
Hakikat Budaya
- Ayi
Sofyan (2010) memahami tantang budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekerta yaitu buddliayah yang berarti sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
budi dan akal manusia.
- Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
- Melvile
J. Hersovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri.
- Koentjaraningrat
(2007) memahami budaya adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil
kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia
yang belajar.
- Yojachem
berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang imateriel bahwa
mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan.
- Ciri
khas yang mengambarkan kebudayaan Indonesia :
· Rumah
adat daerah yang berbeda satu dengan lainnya.
· Alat
musik di setiap daerah yang berbeda
· Kriya
ragam hias dengan motif-motif tradisional, dan batik yang sangat beragam antar
daerah tertentu, dibuat diatas media kain dan kayu.
· Properti
kesenian Indonesia memiliki beragam bentuk selain seni musi, tari, teater,
wayang golek dan topeng.
· Pakaian
daerah
· Benda
seni
· Adat
isitadat
- The
Liang Gie mengatakan kebudayaan dibagi dalam tiga sistem, yaitu :
1. Sistem lazim yang
sering disebut adat istiadat
2. Sistem sosial di
mana merupakan suatu tindakan yang berpola dan manusia
3. Sistem teknologi
sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbiasan jasmaninya.
- Soegiri
(2008) mengemukakan pandangan Melvile J. Hersovits yang menyebutkan kebudayaan
memiliki empat unsur pokok, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi,
keluarga, dan kekuasaan politik.
- Bambang
Sugiharto (2008) merumuskan empat prinsip dasar yang penting dalam memahami
kebudayaan, yaitu :
1. Tanda (dalam
bahasa) terdiri atas yang menandai dan yang ditandai. Penanda yaitu citra
bunyi, sedangkan penanda yaitu gagasan atau konsep. Konsep bunyi memiliki 3
komkonen, yaitu : artikulasi kedua bibir, pelepasan udara yang keluar secara
mendadak, dan pita suara yang tidak bergetar.
2. Adanya acuan ke
realitas objektif
3. Permasalahan yang
selau kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara
individu dengan masyarakat.
4. Gagasan
kebudayaan.
Hakikat Peradaban
Menurut Andi Hakim Nasution (2007) kebudayaan dan peradaban
hanya merupakan istilah. Peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan
unsur-unsur kebudayan yang ‘harus’ dan ‘indah’. Pada sisi lain, istilah
peradaban juga dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem
teknologi, seni bangunan, seni rupa, seni kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang
maju dan kompleks. Dari segi etimologis, peradaban berarti kebudayaan yang
telah sampai pada tingkat jenuh, yang telah berlangsung secara terus-menerus.
Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya terwujud unsur-unsur
budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya maka
masyarakat pemilik kebudayaan itu dikatakan telah memiliki perdaban yang
tinggi.
Interkoneksi ilmu Pengetahuan, Seni dan Agama dalam
Prespektif, Budaya, dan Peradaban.
1. Prespektif
Ilmu dalam Budaya
Manusia diciptakan oleh yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitu
dilengkapi dengan seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran manusia
mendapatkan ilmu, seperti ilmu sosial, ilmu pertanian, ilmu pendidikan,dan ilmu
kesehatan. Pada Hakikatnya manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal
yang ada maupun yang sedang terjadi di sekitarnya. Pengetahuan kaidah berpikir
atau logika merupakan sarana untuk memperoleh,memelihara, dan meningkatkan
ilmu.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan
merupakan unsur kebudayaan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling
tergantung dan saling memengaruhi. Peranan ganda ilmu dalam pengembangan
kebudayaan sebagai berikut :
a. Ilmu merupakan
sumber nilai yang mendukung terselenggaranya perkembangan kebudayaan nasional.
b. Ilmu merupakan
sumber nilai yang mengisi pembentukan waktu suatu bangsa.
Ada tujuan nilai yang terkandung dalam hakikat keilmuan, yaitu
knitis, rasional, logis, objektif, terbuka, menjunjung kebenaran, dan
pengabdian universal.
Langkah-langkah yang digunakan yang pada pokoknya beberapa
pemikiran :
· Ilmu
merupakan kebudayaan, sehingga setiap langkah dalam kegiatan peningkatan ilmu
harus memperhatikan budaya.
· Ilmu
merupakan salah satu cara menemukan kebenaran
· Asumsi
dasar dan setiap kegiatan dalam menemukan kebenaran yaitu percaya dengan metode
yang digunakan
· Kegiatan
keilmuan harus dikaitkan dengan moral
· Pengembangan
keilmuan harus seiring dengan pengembangan filsafat
· Kegiatan
ilmiah harus otonom dan bebas dari kekangan struktur kekuasaan.
2. Prespektif
Budaya dan Pengetahuan dalam Peradaban
Kebudayaan dapat digunakan untuk keperluan praktis,
memperlancar pembangunan masyarakat, di satu sisi pengetahuan teoretis tentang
kebudayaan dapat mengembangkan sikap bijaksana dalam menghadapi serta menilai
kebudayaan yang lain dan pola perilaku yang bersumber pada kebudayaan sendiri.
Kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam
atau suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat.
Kebudayaan tidak bisa terlepas dari peradaban. Peradaban
muncul setelah adanya masa kolonialisasi di mana ada semangat untuk menyebarkan
dan menanamkan peradaban bangsa kolonial dalam masyarakat jajahannya, sehingga
pada masa itu antara masyarakat yang ‘beradab’ dan yang ‘kurang beradab’ dapat
digeneralisasikan sebagai corak kehidupan barat vs. yang bukan barat.
3. Prespektif
Agama dan Budaya
agama yang dibudidayakan yaitu suatu agama yang
dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh penganutnya, sehingga
menghasikan suatu karya/budaya tertentu yang mencerminkan ajaran agama yang
dibudidayakan itu. Agama bukan suatun aturan yang dibuat oleh Tuhan, tetapi
agama merupakan suatu kebutuhan manusia untuk kebaikan manusia. Pembudayaan
suatu agama dapat mengangkat citra agama apabila pembudayaan itu dilakukan
dengan tepat dan penuh tanggung jawab sehingga mampu mencermikan agamanya.
4. Agama
sebagai Kritik Kebudayaan
Penting ditekankan bahwa agama meiliki peran sebagai kritik
kebudayaan. Kebudayaan harus dinilai dalam prespektif ke arah mana ia
akan membawa manusia. Agama harus berdimensi kritis terhadap kebudayaan
manusia. Agama harus meminimalisasi kecenderungan ‘sekularisasi
kebudayaan’.
- Fungsi
kritis agama harus dilakukan dengan menjauhi sikap yang sifatnya totaliter
- Agama
dalam menerangkan fungsi kritisnya secara konkret harus memiliki pengetahuan
empiris yang tangguh.
- Agama
tidak bisa bersifat politisi dalam pengertian hanya membatasi diri pada masalah
ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan kepada Tuhannya.
- Perlunya
mendefinisikan kembali pertobatan dalam keberagaman manusia.
5. Produk
Kebudayaan Manusia Menghasilkan Peradaban
Setiap masyarakat atau bangsa di manapun selalu berkebudayaan,
tetapi tidak semuanya memiliki peradaban, peradaban merukapan tahap tertentu
dan kebudayaan masyarakat tertentu yang telah mencapai kemajuan tertentu yang
dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang sudah maju.
Manusia adalah makhluk yang beradab sebab dianugerahi harkat, martabat, serta
potensi yang tinggi. Peradaban moral dan manusia merupakan nilai-nilai dalam
masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.
6. Seni
sebagai Penggerak Budaya Peradaban
Akar pengalaman estetik merupakan pengalaman keseharian.
Kepekaan atas medan bentuk serta pengalaman atas gerak denyut kehidupan macam
itulah akar dan kesadaran estetik dan kecenderungan berkesenian. Seni adalah
segala upaya untuk memberi bentuk manusiawi pada hidup dan semesta, berbagai
cara membiasakan aspirasi batin lewat penciptaan benda dan peristiwa.
Tahap Eksistensi Manusia
A. Tahap
Estetis
Tahap estetis adalah tahap di mana orientasi hidup manusia
sepenuhnya diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Manusia estetis adalah
manusia yang pada akhir hidupnya hampir tidak bisa lagi menentukan pilihan,
karena semakin banyak alternatif yang ditawarkan masyarakat dan jamannya.
B. Tahap
Etis
Perubahan hidup dari estetis ke etis merupakan semacam
pertobatan, di mana individu mulai menerima kebijakan-kebijakan moral dan
memilih meningkatkan diri padanya. Manusia etis akan sanggup menolak tirani dan
kuasa dari luar.
C. Tahap
Religius
Lompatan tahap etis ke tahap religius lebih sulit karena tidak
perlu pertimbangan rasional melainkan keyakinan subjektif berdasarkan pada
iman. Hidup dalam Tuhan adalah hidup subjektivitas transedent, tanpa
rasionalisasi atau tanpa ikatan kepada suatu yang bersifat duniawi.
Kaitan Psikologi dengan Agama
Agama bersifat dogmatis yaitu mengandung nilai-nilai yang
terkait dengan keyakinan kebenaran dalam agama tidak selalu dapat diterima
dengan nalar. Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. Psikologi
agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan
yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama.
Tahap Budaya
1. Budaya
dalam kaitan Psikologis
Psikologi menurut budaya yaitu perilku yang cenderung untuk
mengulang-ulang bentuk-bentuk perilsku tertentu karena perilaku tersebut
diturunkan melalui pola asuh dan proses belajar. Masyarakat Indonesia yang
majemuk terdiri dari berbagai budaya. Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri
dari berbagai budaya secara logis akan mengalami berbagai
permasalahan,persentuhan antar budaya akan selalu terjadi karena permasalahan
silang budaya selalu terkait erat dengan cultural meterialisme yang mencermarti
budata dari pola pikir dan tindakan dari kelompok sosial tertentu di mana pada
tempramen ini banyak ditentukan oleh faktor keturunan. Masyarakat dan
kebudayaannya pada dasarnya merupakan tayangan besar dari kehidupan bersama
antara individu-individu manusia yang bersifat dinamis.
2. Budaya
dan Perkembangan kepribadian
Kepribadian manusia selalu berubah sepanjang hidupnya dalam
arah-arah karakter yang lebih jelas dan matang. Perbuahan-perubahan tersebut
sangat dipengaruhi lingkungan dengan fungsi-fungsi bawaan sebagai dasarnya.
Selain itu, perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh semakin
bertambahnya usia seseorang.
3. Budaya
dan Konsep Diri
Konsep diri adalah organisasi dari presepsi-presepsi diri.
Suatu deskripsi tentang siapa kita , mulai dari identitas fisik, sifat hingga
prinsip.
4. Budaya
dan Psikologi Indigenous
5. Perkembangan
Budaya dan Aplikasi
Menurut Prof. Kusdwiratri Setiono,
ada 4 hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Pengetahuan
psikologi tidak dipaksa dari luar melainkan dari tradisi budaya setempat.
2. Psikologi
sesungguhnya bukan berupa tingkah laku artifisial uang diciptalan melainkan
berupa tingkah laku keseharian.
3. Tingkah laku
dipahami dan diinterpretasi tidak dalam kerangka teori yang import,melainkan
dalam kerangka pemahaman buday setempat.
4. Psikologi
indegenous mencakup pengetahuan psikologi yang relevan dan didesain untuk
orang- orang setempat.
Psikologi indegenous selalu dikaitkan dengan penelitian dan
proses indigenesasi budaya. Proses untu indegenous psychology kan suatu budaya
itulah yang disebut dengn indigenisasi. Beberapa istilah indigenissasi menurut
bProf. Kusdwiratri Setiono :
· Ada
kedekatan antara pendekatan indigenous dengan pendekatan psikologi lintas
budaya
· Pendekatan
ini berbeda, namun sama-sama perlu digunakan secara bersamaan.
· pendekatan
ini mencakup pendekatanindigenizatin from within dan pendekatan lintas budaya
mencakup indigenization from without.
Integrasi Ilmu Pengetahua, Seni, dan Budaya
Tidak semua pengetahuan dikategorikan ilmu,sebab pengetahuan
itu sendiri sebagai segala sesuatu yang diketahui dan datang sebagai hasil dan
aktivitas pancaindera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke
dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki
lwbih jauh, luas, dan dalam dan pengetahuan.
Kebudayaan sebagai sistem yang
merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alama atau suatu sistem yang berfungsi
untuk mempertahankan kehidupan masyarakat, yang merupakan hasil dan manusia
yang merupakan makhluk yang beradab sebab dianugerahi harkat, martabay serta
potensi kemanusiaan yang tingggi.
Agama dapat berfungis sebagai kritik seni
sekaligus sebagai kritik ilmu, bahwa fungsi kritis agama harus dilakukan dengan
menjauhi sikap yang sifatnya totaliter. Wujud peradaban moral dan agama
merupakan nilai-nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.
Langganan:
Komentar (Atom)