Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan
Psikososial Anak
Latar Belakang Masalah
Keluarga adalah “sekelompok orang yang
terdiri dari suami istri dan anak-anak yang hidup bersama dengan berbagi kasih
sayang, perhatian, ide, kebahagiaan maupun kesedihan dan pengalaman untuk
tujuan bersama yaitu bahagia” (Brugges
& Liok, dalam Elida Prayitno, 2011, h. 3). Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak masalah-masalah
yang menjadi kompleks dan mempengaruhi keluarga-keluarga mengakibatkan munculnya
struktur-struktur baru dalam keluarga. Pola pikir masyarakat tentang perkawinan
dan perceraian sebagai awal dan akhir dari suatu keluarga juga mulai memudar.
Pembentukan-pembentukan keluarga pun mulai terjadi secara sah dan tidak sah
yang berujung pada perubahan struktur keluarga juga.
Salah
satu bentuk struktur keluarga yang baru tapi tidak asing lagi di kalangan
masyarakat adalah single parent. Keluarga
bukanlah lagi merupakan “unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dalam suatu atap dalam keadaan
saling ketergantungan.” (Depkes RI, 1998). Single parent seringkali hanya
mencakup anak-anak kandung dengan seorang ibu dan seorang ayah. Struktur single parent inilah yang menjadi
masalah, karena ketidakhadiran dan ketidaklengkapan peran ayah atau ibu mampu
mempengaruhi perkembangan psikososial anak.
Pengertian Single Parent
Menurut Hurlock (dikutip dalam Psychologymania,
2013),
Single parent adalah orangtua yang telah
menduda atau menjanda entah bapak atau ibu, mengasumsikan tanggung jawab untuk
memelihara anak-anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak
diluar nikah. (Para. 2)
Sedangkan menurut Hammer & Turner (dikutip dalam Psychologymania, 2013, para. 3), “A single parent family consist of one parent
with dependent children living in the same household”. Sejalan dengan pengertian menurut Sager et
al. (dikutip dalam Duvall & Miller, 1985) “single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan
anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya.” (Psychologymania, 2013). Kesimpulannya, single parent adalah keluarga dengan
hanya satu ayah atau satu ibu saja, secara sendirian membesarkan anak,
memelihara, mempertahankan dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri.
Penyebab Single Parent
Perceraian. Dalam
suatu perkawinan itu dibutuhkan kesepakatan untuk pembagian hak dan kewajiban
dari masing-masing pihak istri maupun suami. Perceraian itu terjadi ketika
salah satu atau keduanya gagal melakukan tanggung jawabnya itu. Lalu timbullah
permusuhan dan kebencian sehingga tidak ada lagi jalan keluar yang dapat
disepakati. Pada akhirnya salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk
berpisah baik secara sah maupun tidak sah. (Haryanto, 2011)
Kehamilan di luar nikah. Di jaman
modern, kasus seperti ini sangat marak dibicarakan publik. Baik penyebabnya
karena seks bebas dan si pihak lelaki tidak mau bertanggung jawab untuk
menikahi si perempuan ataupun karena kasus pemerkosaan.
Keinginan untuk tidak menikah.
Beberapa pria dan wanita di kehidupan modern ini, memiliki pola pikir di mana
perkawinan bukanlah hal yang wajib ataupun diprioritaskan baik oleh keluarga
ataupun individu itu sendiri. Ada yang memilih untuk hidup sendiri untuk
menjadi wanita atau pria karier, atau karena tuntutan profesi (contoh: pastor),
ataupun yang dari individu itu sendiri merasa nyaman untuk hidup single.
Pilihan untuk mengadopsi anak. Faktor
kesehatan reproduksi yang kurang bagus menjadi alasan terbesar untuk mengadopsi
anak. Namun ada juga yang karena alasan social, sebagai contoh: berempati
dengan anak-anak yang yatim-piatu. Keinginan untuk tidak menikah tapi ingin
mempunyai keluarga kecil dapat juga menjadi salah satu alasan untuk melakukan
adopsi.
Dampak Single Parent terhadap Perkembangan PsikososialAnak
Peran orang
tua sangat crucial dalam perkembangan
psikososial anak. Baik sosok ayah maupun sosok ibu, dua-duanya sama pentingnya.
Struktur keluarga single parent yang
berbeda dari keluarga pada umumnya, tentunya menimbulkan dampak-dampak baik
yang positif ataupun negatif bagi perkembangan anak.
Dampak negatif. Terdapat
tiga dampak negatif dari peran single
parent terhadap perkembangan psikososial anak. Tiga dampak negative
tersebut adalah
Perubahan
perilaku anak. “Children
of divorce when compared to those of intact families, have higher rates of
emotional and behavioral problems, higher rates of delinquency for boys, and
higher levels of anxiety and depression among preschool children” (Reiss
& Lee, dikutip dalam Feltey, 1995, p. 666). Sifat nakal, tidak sopan dan
depresi dapat terjadi karena kurangnya waktu orang tua dengan anaknya untuk
menanamkan adat istiadat atau meluangkan waktu bersama untuk bertukar pikiran.
(“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014)
Terganggunya
fungsi sosial anak. Tentunya dalam lingkungan masyarakat, baik
lingkungan tempat tinggal ataupun sekolah, status orang tua tidak benar-benar
bisa disembunyikan. Maka besar kemungkinan terjadi adanya cemooh ataupun ejekan
dari teman-teman ataupun tetangga-tetangga. Bahkan bisa berujung pada bullying
yang akhirnya merusak mental si anak, menjadi kurang percaya diri atau minder,
mudah depresi dan kurang interaksi dengan lingkungan sekitar. (“Efek Negatif
dari Single Parent”, 2014)
Tersesat
figuritas. Figur seorang ayah penting bagi anak perempuan
dan figure seorang ibu juga penting bagi anak laki-laki. Sebagai contoh, anak
laki-laki mempelajari peran ayah dari ibunya atau wanita lain, yang mampu
berakibat buruk. Misalnya, si anak laki-laki menjadi kewanita-wanitaan atau
lembut gemulai seperti ibunya, bisa juga karena tidak terbiasa dengan hadirnya
laki-laki, si anak menjadi takut atau membenci laki-laki. (“Efek Negatif dari
Single Parent”, 2014).
Dampak positif. Terdapat
tiga dampak positif dari peran single
parent terhadap perkembangan psikososial anak. Dua dampak positif tersebut
adalah
Anak
terhindar dari pertengkaran orang tua. Menonton pertengkaran orang tua mampu menganggu kondisi
mental seorang anak, apalagi pertengkarang yang rutin dilakukan. Anak dari single parent tidak perlu melalui
moment-moment buruk seperti ini.
Anak
menjadi lebih mandiri dan memiliki kepribadian kuat. Single
parent akan lebih sering menyibukkan diri untuk bekerja mencari
nafkah daripada mengurusi anaknya di rumah. Sehingga si anak sudah terbiasa
untuk melakukan segalanya serba sendiri, tanpa harus didampingi. Sikap mandiri
ini akan memudahkan pribadi si anak untuk kedepannya, yaitu lebih siap untuk mengarungi
dunia luar yang keras.
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa single parent merupakan keluarga dengan dengan hanya satu ayah atau
satu ibu saja dan secara sendirian membesarkan anak, memelihara, mempertahankan
dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri. Kondisi single parent dapat
terjadi karena perceraian, kematian pasangan, kehamilan diluar nikah, keinginan
untuk tidak menikah dan mengadopsi anak.
Ketidakhadiran salah satu sosok dari orang tua baik ayah ataupun ibu
mampu mengakibatkan dampak negatif dan positif bagi perkembangan anak. Dampak
negatifnya adalah perubahan perilaku anak, terganggunya fungsi sosial anak dan
anak dapat tersesat figuritas, Sedangkan dampak positifnya adalah anak terhindar
dari pertengkaran orang tua dan anak menjadi lebih mandiri dan memiliki
kepribadian kuat.
Daftar Pustaka
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. (1998). Perawatan
kesehatan keluarga petunjuk bagi perawat kesehatan. Jakarta: Penulis.
Dessy, N. S. (2012). Peran wanita single parent dalam perkembangan kompetensi emosi remaja
di Salatiga. (Tesis tidak diterbitkan).
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia. Diunduh dari
http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1427
Elida
Prayitno. 2006. Psikologi dewasa.
Padang: Angkasa Raya
Haryanto.
(2011). Pengertian perceraian. Jurnal
Psikologi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-perceraian/
Lenvinson,
D. (1995). Single parents. In D. Levinson (Ed.), Encyclopedia of marriage and
the family (Vol. 2, p. 666). New York, NY: Smin & Schuster MacMillan.
Mailany,
I., & Sano, A. (2013). Permasalahan
yang dihadapi single parent di jorong kandang harimau kenagarian sijunjung dan
implikasinya terhadap layanan konseling. Konselor:
Jurnal ilmiah konseling, 2(1), 76-82.
Pengertian
single parent. (2013, Januari). Psychologymania.
Diunduh dari http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-single-parent.html
Yui.
(2013, 3 Juli). Efek negatif dari single parent. HerSays. Diunduh dari http://www.hersays.com/category/Parenting/Dear-Parents/741/Efek-Negatif-Dari-Single-Parent
Tidak ada komentar:
Posting Komentar