Selasa, 11 November 2014

Karya Tulis Stres pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Stres pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Latar Belakang Masalah
     Stres memang hal yang sering dipandang biasa oleh masyarakat, apalagi pada tahap perkembangan remaja. Stres pada masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa ini dianggap wajar karena mereka dianggap sedang beradaptasi dengan kerasnya dunia realita. Tanpa mengetahui dengan jelas pengertian, gejala, penyebab dan dampak dari stres, masyarakat tengah mengabaikan kondisi ini. Padahal “secara global, kasus bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua seluruh dunia di kalangan remaja berusia 15-19 tahun, dengan sekurangnya 100.000 remaja bunuh diri setiap tahun” (Priscillia, 2012, para. 7).    
     Benar bahwa setiap individu pasti akan mengalami stres dalam hidupnya. Namun, apakah individu tersebut mampu melewati masa-masa itu, tergantung dari pribadi itu sendiri dan pengaruh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya, Maka dari itu, pribadi masing-masing dan masyarakat perlu mengerti benar tentang stres. Tujuannya, agar dapat membantu orang-orang di sekitar ataupun diri sendiri, khususnya remaja, dalam mengatasi tekanan stres dan meminimalisir dampak yang berbahaya dari stres.

Stres
     Menurut McGraith (dikutip dalam Weinberg & Gould, 2003, p. 81), stres adalah “a substantial imbalance between demand (physical and/or psychological) and response capability, under conditions where failure to meet that demand has importance consequences”. Ahli-ahli lain juga mengartikan stres sebagai “the condition in which person-environment transactions lead to a perceived discrepancy between the physical or psychological demands of a situation and the resources of the individual’s biological, psychological, or social systems” (Lazarus & Folkman; Lovallo; Singer & Davidson; Trumbull & Appley dikutip dalam Sarafino, 2002, p. 71). Dengan kata lain, stres adalah kondisi yang dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan atau kegagalan seseorang dalam memenuhi tuntutan secara fisik atau psikologis.

     Jenis-jenis stres. Stres tidak selalu berhubungan dengan yang negatif. Sebenarnya terdapat dua jenis stres yaitu eustress dan distress. Eustress merupakan stres yang mampu meningkatkan kemampuan dan menantang hidup secara positif sehingga hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sementara distress merupakan stres negatif yang menyebabkan penyakit, kesedihan dan masalah dalam hidup seseorang (Mujahid, 2013).

Remaja
     Menurut Rumini & Sundari, Darajat, dan Santrock (dikutip dalam Haryanto, 2010), masa remaja terjadi dalam rentang usia 12-22 tahun. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, dalam masa ini terjadi proses pematangan fisik dan psikologis. Dengan demikian baik secara fisik, emosional, psikososial terjadi banyak perubahan dalam diri remaja.

Gejala Stres pada Remaja
     Menurut Amberg (dikutip dalam Hawari, 2001) terdapat enam tahapan stres. Tahap pertama meliputi perasaan-perasaan semangat dan senang yang berlebihan dalam melakukan suatu pekerjaan tanpa menyadari energi yang sebenarnya ikut terkuras. Tahap kedua berupa efek dari energi dari tahap pertama yang terkuras yaitu fisik yang letih, gangguan lambung, ketegangan otot-otot dan jantung yang berdetak relatif cepat. Tahap ketiga adalah keluhan-keluhan pada tahap dua yang semakin menjadi-jadi, ditambah dengan ketegangan emosional, insomnia, dan koordinasi tubuh yang terganggu.

     Berlanjut ke tahap empat, individu mulai kehilangan interest dan semangat terhadap hal-hal yang menyenangkan, tidak tanggap dan tidak mampu menjalankan rutinitas. Selain itu, menurunnya konsentrasi dan daya ingat dan munculnya rasa takut dan cemas tanpa alasan juga merupakan gejala stres dari tahap empat. Tahap kelima, karena kelelahan fisik dan mental, rutinitas yang ringan pun tidak mampu dilakukan, gangguan pencernaan dan rasa takut, cemas, panik pun semakin menjadi-jadi. Di tahapan klimaks yaitu tahap keenam, debaran jantung akan semakin kencang, sulit bernafas, badan gemetar, dingin dan berkeringat, tak ada tenaga dan akhirnya pingsan. (Amberg dikutip dalam Hawari, 2001)

Penyebab Stres pada Remaja    
     Stressor. Menurut Greenberg (1999) “a stressor is a stimulus with the potential of triggering the fight-or-flight response” (p. 7). Maksudnya adalah stimulus yang memicu stres disebut stressor. Menurut Windle dan Mason (2004) terdapat empat faktor yang menjadi penyebab stres remaja yaitu penggunaan obat-obat terlarang, kenakalan remaja, pengaruh negatif dan masalah akademis. 
     Sementara itu, menurut Walker (2002) terdapat 3 faktor penyebab stres pada remaja, yaitu faktor biologis, faktor kepribadian dan faktor psikologis dan sosial. Faktor biologis meliputi sejarah keluarga yang depresi atau bunuh diri, serta pencandu alkohol atau obat-obatan. Selain itu, kekerasan seksual atau fisik, perceraian, penyakit akut atau ketidakmampuan mental atau fisik yang diderita individu atau keluarga dan juga merupakan faktor biologis penyebab stres.

     Pribadi individu juga mampu menjadi penyebab stres, seperti tingkah laku agresif, antisosial dan obsesif. Contoh lainnya adalah ketakutan terhadap sesuatu yang tidak nyata dan penggunaan obat terlarang, Kemampuan bersosialisasi yang buruk, kepercayaan diri yang sangat rendah dan masalah dengan tidur atau makan juga terbukti dapat mengakibatkan stres. Sementara itu faktor psikologis dan sosial meliputi kehilangan orang yang dicintai ataupun konflik dengan orang-orang sekitar. Kegagalan dalam mencapai ekspetasi atau goal, pengalaman dipermalukan, hamil diluar nikah ataupun masalah keuangan dapat juga menyebabkan stres. (Walker, 2002)

Dampak Stres terhadap Remaja                                         
     Selain berpengaruh buruk terhadap kondisi psikologis, ternyata stres juga mempengaruhi kondisi fisik. Sependapat dengan Mahsun (2004), dampak dari stres dapat mengakibatkan gangguan fisik seperti kardiovaskuler, heart attack, stroke, jantung berdetak cepat tak beraturan, sakit kepala, perut dan insomnia. Daya pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas pun menurun. Disertai juga oleh perubahan tingkah laku seperti mudah marah, emosional, minum minuman keras berlebihan, depresi, merasa hampa dan merasa bermusuhan. Jika sudah parah dan berkepanjangan, stres yang berubah menjadi depresi dapat berujung pada aksi bunuh diri.

Cara Mengatasi Stres pada Remaja
     Banyak cara yang dapat dilakukan oleh remaja dalam mengatasi situasi stres, contohnya dengan memanajemen ulang rutinitas pola hidup menjadi lebih baik secara batiniah maupun lahiriah. Namun terdapat pula cara yang dianjurkan oleh Sukadiyanto (2010) untuk mengurangi stres, yaitu:

Pola makan yang sehat dan bergizi, memelihara kebugaran jasmani, latihan pernapasan, latihan relaksasi, melakukan aktivitas yang menggembirakan, berlibur, menjalin hubungan yang harmonis, menghindari kebiasaan yang jelek, merencanakan kegiatan harian secara rutin, memelihara tanaman dan binatang, meluangkan waktu untuk diri sendiri (keluarga), menghindari diri dalam kesendirian. (h. 63)

     Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres menurut Mahsun (2004) adalah membuat daftar tentang hal-hal yang membuat stres, mengawasi pikiran. Dapat juga dengan membuat perkiraan tentang sekolah dan kehidupan keluarga untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi, mengendalikan yang masih bisa dikendalikan. Penyelesaian masalah-masalah kecil juga dapat dilakukan, istirahat cukup juga penting, makan yang baik dan teratur, tidak memaksakan diri terhadap hal yang tidak bisa atau tidak ingin dilakukan. Selain itu, cari teman bicara, kenali orang-orang yang positif dan optimis, melakukan aktivitas olahraga dan kegiatan relaksasi. Bernafas secara teratur merupakan hal sederhana tapi mampu meredakan stres dan terakhir adalah menghindari obat-obatan terlarang dan alkohol.

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai stres. Stres pada remaja adalah kondisi terjadinya ketidakseimbangan atau kegagalan seseorang pada masa remaja dalam memenuhi kebutuhan secara fisik atau psikologis. Masa remaja berlangsung pada usia 12-22 tahun dan merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Tidak hanya berkaitan dengan hal yang negatif, stres juga dapat bersifat positif dalam kehidupan seseorang. Gejala stres dibagi menjadi 6 tahapan yang diawali dengan perasaan-perasaan positif yang berlebihan lalu diakhiri dengan panic attack dan akhirnya pingsan.

     Penyebab stres disebut juga stressor. Stressor dapat dipengaruhi faktor biologis, kepribadian, psikologis dan sosial. Beberapa dampak stres pada remaja dapat juga disimpulkan sebagai berikut, gangguan fisik, penurunan daya pikir, daya ingat, energi, dan produktivitas, perubahan tingkah laku dan dapat berubah menjadi depresi yang berujung pada aksi bunuh diri.

     Untuk meminimalisir dampak-dampak negatif tersebut, terdapat cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu dengan menjaga pola makan, berolahraga dan relaksasi. Selain itu, dapat juga dengan melakukan hal-hal positif dan mengantisipasi hal-hal buruk. Ditambah dengan istirahat cukup, pembinaan hubungan harmonis dengan orang lain dan tentunya menjauhi stressor.
  


Daftar Pustaka
Greenberg, J. S. (1999). Comprehensive stress management (6th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Haryanto. (2010, 11 Maret). Pengertian remaja menurut para ahli. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
Hawari, H. D. (2001). Manajemen stress cemas dan depresi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mahsun. (2004). Bersahabat dengan stress. Yogyakarta: Prisma Media.
Mujahid, R. (2013, 11 April). Jenis stress. Diunduh dari http://reframepositive.com/jenis-stress/
Priscillia, E. (2012, 10 September). 1 orang tewas bunuh diri setiap 40 detik. Jaringnews. Diunduh dari http://jaringnews.com/internasional/asia/22574/-orang-tewas-bunuh-diri-setiap-detik
 Sarafino, E. P. (2002). Health psychology: Biopsychosocial interactions (4th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Sukadiyanto. (2010). Stress dan cara menguranginya. Cakrawala pendidikan, 1, 55-66. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/3706/1/06Sukadiyanto.pdf
Walker, J. (2002). Teens in Distress Series: Adolescent Stress and Depression. The center for 4-H youth development. University of Minnesota Extension Service. Retrieved from http://www.smmusd.org/Samohi/PTSA/minutes/teens/teens_in_distress.html
Weinberg, R. S., & Gould, D. (2003). Foundations of Sport and Exercise Psychology (3rd ed.). Champaign, IL: Human Kinetics.

Windle, M. & Mason A. (2004). General and Specific Predictors of Behavioral and Emotional Problems among Adolescents. Journal of Emotional and Behavioral Disorder, 12(1), 49-61. doi: 10.1177/10634266040120010601.

Rabu, 05 November 2014

Karya Tulis Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan Psikososial Anak

Pengaruh Single Parent terhadap Perkembangan Psikososial Anak

Latar Belakang Masalah
     Keluarga adalah “sekelompok orang yang terdiri dari suami istri dan anak-anak yang hidup bersama dengan berbagi kasih sayang, perhatian, ide, kebahagiaan maupun kesedihan dan pengalaman untuk tujuan bersama yaitu bahagia” (Brugges & Liok, dalam Elida Prayitno, 2011, h. 3). Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak masalah-masalah yang menjadi kompleks dan mempengaruhi keluarga-keluarga mengakibatkan munculnya struktur-struktur baru dalam keluarga. Pola pikir masyarakat tentang perkawinan dan perceraian sebagai awal dan akhir dari suatu keluarga juga mulai memudar. Pembentukan-pembentukan keluarga pun mulai terjadi secara sah dan tidak sah yang berujung pada perubahan struktur keluarga juga.
Salah satu bentuk struktur keluarga yang baru tapi tidak asing lagi di kalangan masyarakat adalah single parent. Keluarga bukanlah lagi merupakan “unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dalam suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.” (Depkes RI, 1998). Single parent seringkali hanya mencakup anak-anak kandung dengan seorang ibu dan seorang ayah. Struktur single parent inilah yang menjadi masalah, karena ketidakhadiran dan ketidaklengkapan peran ayah atau ibu mampu mempengaruhi perkembangan psikososial anak.

Pengertian Single Parent
     Menurut Hurlock (dikutip dalam Psychologymania, 2013),
Single parent adalah orangtua yang telah menduda atau menjanda entah bapak atau ibu, mengasumsikan tanggung jawab untuk memelihara anak-anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak diluar nikah. (Para. 2)

     Sedangkan menurut Hammer & Turner (dikutip dalam Psychologymania, 2013, para. 3), “A single parent family consist of one parent with dependent children living in the same household”. Sejalan dengan pengertian menurut Sager et al. (dikutip dalam Duvall & Miller, 1985) “single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya.” (Psychologymania, 2013). Kesimpulannya, single parent adalah keluarga dengan hanya satu ayah atau satu ibu saja, secara sendirian membesarkan anak, memelihara, mempertahankan dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri.

Penyebab Single Parent
     Perceraian. Dalam suatu perkawinan itu dibutuhkan kesepakatan untuk pembagian hak dan kewajiban dari masing-masing pihak istri maupun suami. Perceraian itu terjadi ketika salah satu atau keduanya gagal melakukan tanggung jawabnya itu. Lalu timbullah permusuhan dan kebencian sehingga tidak ada lagi jalan keluar yang dapat disepakati. Pada akhirnya salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk berpisah baik secara sah maupun tidak sah. (Haryanto, 2011)
   Kematian pasangan. Pada hakikatnya, semua manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Umur hanyalah masalah waktu sehingga kematian adalah satu-satunya hal yang pasti akan terjadi dalam suatu perkawinan. Baik karena sakit, kecelakaan, bunuh diri ataupun dibunuh, pada akhirnya salah satu pihak akan meninggalkan pasangannya menjadi single parent.
     Kehamilan di luar nikah. Di jaman modern, kasus seperti ini sangat marak dibicarakan publik. Baik penyebabnya karena seks bebas dan si pihak lelaki tidak mau bertanggung jawab untuk menikahi si perempuan ataupun karena kasus pemerkosaan.
     Keinginan untuk tidak menikah. Beberapa pria dan wanita di kehidupan modern ini, memiliki pola pikir di mana perkawinan bukanlah hal yang wajib ataupun diprioritaskan baik oleh keluarga ataupun individu itu sendiri. Ada yang memilih untuk hidup sendiri untuk menjadi wanita atau pria karier, atau karena tuntutan profesi (contoh: pastor), ataupun yang dari individu itu sendiri merasa nyaman untuk hidup single.
     Pilihan untuk mengadopsi anak. Faktor kesehatan reproduksi yang kurang bagus menjadi alasan terbesar untuk mengadopsi anak. Namun ada juga yang karena alasan social, sebagai contoh: berempati dengan anak-anak yang yatim-piatu. Keinginan untuk tidak menikah tapi ingin mempunyai keluarga kecil dapat juga menjadi salah satu alasan untuk melakukan adopsi.

Dampak Single Parent terhadap Perkembangan PsikososialAnak
     Peran orang tua sangat crucial dalam perkembangan psikososial anak. Baik sosok ayah maupun sosok ibu, dua-duanya sama pentingnya. Struktur keluarga single parent yang berbeda dari keluarga pada umumnya, tentunya menimbulkan dampak-dampak baik yang positif ataupun negatif bagi perkembangan anak.
     Dampak negatif. Terdapat tiga dampak negatif dari peran single parent terhadap perkembangan psikososial anak. Tiga dampak negative tersebut adalah
     Perubahan perilaku anak. “Children of divorce when compared to those of intact families, have higher rates of emotional and behavioral problems, higher rates of delinquency for boys, and higher levels of anxiety and depression among preschool children” (Reiss & Lee, dikutip dalam Feltey, 1995, p. 666). Sifat nakal, tidak sopan dan depresi dapat terjadi karena kurangnya waktu orang tua dengan anaknya untuk menanamkan adat istiadat atau meluangkan waktu bersama untuk bertukar pikiran. (“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014)
     Terganggunya fungsi sosial anak. Tentunya dalam lingkungan masyarakat, baik lingkungan tempat tinggal ataupun sekolah, status orang tua tidak benar-benar bisa disembunyikan. Maka besar kemungkinan terjadi adanya cemooh ataupun ejekan dari teman-teman ataupun tetangga-tetangga. Bahkan bisa berujung pada bullying yang akhirnya merusak mental si anak, menjadi kurang percaya diri atau minder, mudah depresi dan kurang interaksi dengan lingkungan sekitar. (“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014)
     Tersesat figuritas. Figur seorang ayah penting bagi anak perempuan dan figure seorang ibu juga penting bagi anak laki-laki. Sebagai contoh, anak laki-laki mempelajari peran ayah dari ibunya atau wanita lain, yang mampu berakibat buruk. Misalnya, si anak laki-laki menjadi kewanita-wanitaan atau lembut gemulai seperti ibunya, bisa juga karena tidak terbiasa dengan hadirnya laki-laki, si anak menjadi takut atau membenci laki-laki. (“Efek Negatif dari Single Parent”, 2014).

     Dampak positif. Terdapat tiga dampak positif dari peran single parent terhadap perkembangan psikososial anak. Dua dampak positif tersebut adalah
     Anak terhindar dari pertengkaran orang tua. Menonton pertengkaran orang tua mampu menganggu kondisi mental seorang anak, apalagi pertengkarang yang rutin dilakukan. Anak dari single parent tidak perlu melalui moment-moment buruk seperti ini.
     Anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kepribadian kuat. Single parent akan lebih sering menyibukkan diri untuk bekerja mencari nafkah daripada mengurusi anaknya di rumah. Sehingga si anak sudah terbiasa untuk melakukan segalanya serba sendiri, tanpa harus didampingi. Sikap mandiri ini akan memudahkan pribadi si anak untuk kedepannya, yaitu lebih siap untuk mengarungi dunia luar yang keras.

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa single parent merupakan keluarga dengan dengan hanya satu ayah atau satu ibu saja dan secara sendirian membesarkan anak, memelihara, mempertahankan dan bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri. Kondisi single parent dapat terjadi karena perceraian, kematian pasangan, kehamilan diluar nikah, keinginan untuk tidak menikah dan mengadopsi anak.
     Ketidakhadiran salah satu sosok dari orang tua baik ayah ataupun ibu mampu mengakibatkan dampak negatif dan positif bagi perkembangan anak. Dampak negatifnya adalah perubahan perilaku anak, terganggunya fungsi sosial anak dan anak dapat tersesat figuritas, Sedangkan dampak positifnya adalah anak terhindar dari pertengkaran orang tua dan anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kepribadian kuat.


Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1998). Perawatan kesehatan keluarga petunjuk bagi perawat kesehatan. Jakarta: Penulis.

Dessy, N. S. (2012). Peran wanita single parent dalam perkembangan kompetensi emosi remaja di Salatiga. (Tesis tidak diterbitkan). Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia. Diunduh dari http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1427

Elida Prayitno. 2006. Psikologi dewasa. Padang: Angkasa Raya
Haryanto. (2011). Pengertian perceraian. Jurnal Psikologi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-perceraian/

Lenvinson, D. (1995). Single parents. In D. Levinson (Ed.), Encyclopedia of marriage and the family (Vol. 2, p. 666). New York, NY: Smin & Schuster MacMillan.

Mailany, I., & Sano, A. (2013).  Permasalahan yang dihadapi single parent di jorong kandang harimau kenagarian sijunjung dan implikasinya terhadap layanan konseling. Konselor: Jurnal ilmiah konseling, 2(1), 76-82.

Pengertian single parent. (2013, Januari). Psychologymania. Diunduh dari http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-single-parent.html

Yui. (2013, 3 Juli). Efek negatif dari single parent. HerSays. Diunduh dari http://www.hersays.com/category/Parenting/Dear-Parents/741/Efek-Negatif-Dari-Single-Parent