Selamat pagi siang sore malam dimanapun kamu berada !Hari ini ada postingan baru lagi nihKali ini tentang Epistemologi dan Kebenaran
Kita langsung masuk ke materi aja oke ?
Disini saya akan menjelaskan satu - satu lebih dalam tentang metode - metode untuk memperoleh pengetahuan oke ?
1. Empirisme : mendasarkan cara memperoleh pengalaman dengan melalui pengalaman dengan John Locke sebagai tokoh pentingnya dengan prinsipnya Tabula Rasa
2. Rasionalisme : mendasarkan bahwa sumber pengetahuan terletak di akal dengan tokohnya Renee Descartes
3. Fenomenalisme : mendasarkan cara memperoleh pengalaman lewat gejala - gejala yang ada dengan Immanuel Kant sebagai tokoh pentingnya
Kita lanjut ke penjelasan yang lebih mendalam juga tentang sifat - sifat epistemologi.
1. Secara Kritis : dimana kita mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia
2. Secara Normatif : dimana kita menentukan tolok ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan
3. Secara Evaluatif :dimana kita menilai apakah suatu keyakinan, pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat
dan juga dapat melekat pada proses kegiatan kognitif ilmuwan, tolok ukur kebenaran yang dipertanggungjawabkan secara logis pada ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah.
ada 8 dasar dan sumber pengetahuan, sebagai berikut
1. pengalaman manusia
2. ingatan (memory)
3. Penegasan ttg apa yang diobservasi ( kesaksian )
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika berpikir tepat dan logis
7. Bahasa : ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan
8. Kebutuhan hidup manusia yang mendorong terciptanya IPTEK
ada pula 2 kutub dalam struktur ilmu pengetahuan yaitu
1. kesadaran / subjek yang berperan sebagai yang menyadari / mengetahui
2. objek (O) yang berperan sebagai yg disadari / diketahui
Dan Hubungan mereka berdua ini menghasilkan pengetahuan :3
Selain itu ada juga 5 hal penting yaitu Teori kebenaran dalam epistemologi :
1. Teori kebenaran korespondensi : kebenaran akan terjadi apabila subjek yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataanya (subyektif)
2. Teori kebenaran koherensi : kebenaran akan terjadi apabila ada kesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek (objektif)
3. Teori kebenaran pragmatik : kebenaran akan terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaannya
4. Teori kebenaran konsensus : kebenaran akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu
5. Teori kebenaran semantik : kebenaran akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata
Sekarang kita lanjut ke bagian kedua yuk ! Tentang Kebenaran :D
kata kebenaran sebenarnya sudah tidak asing lagi yah di telinga kita, namun dalam kelas hari ini, saya menemukan banyak sekali hal - hal mengagumkan tentang kebenaran yang sungguh sangat terdengar asing bagi saya, karena pembahasannya menggunakan ilmu filsafat. Sudah mulai penasaran belum nih ? Kita mulai aja deh kalo gitu :P
Seperti biasa kita mulai dari bahasa Yunani dari kebenaran, yaitu Aletheia. Yang dimana menurut Plato, berarti "ketaktersembunyian adanya" atau "ketersingkapan adanya". Namun secara umum kebenaran adalah kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
ada hal yang sungguh menarik namun cukup sulit untuk dipahami, yaitu saat Plato mengatakan bahwa selama kita terikat pada "yang ada" dan tidak masuk pada "adanya dari yang ada", kita belum berjumpa dengan kebenaran, karena "adanya" itu masih tersembunyi.
Sedangkan, menurut Aristoteles, kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif, secara singkat, kebenaran sebagai kesesuaian antara subyek si penahu dengan obyek yang diketahui.
beda dengan kaum Positivisme Logis yang menyatakan bahwa ada kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
Kebenaran Faktual :
- kebenaran yang biasanya dapat diukur dengan dapat atau tidaknya manusia mengalami hal yang ingin dibuktikan kebenarannya secara inderawi
- menambah khazanah pengetahuan tentang alam semesta
- tidak pernah mutlak dan tetap diterima sebagai benar sampai ada alternatif pandangan lain yang menggugurkannya
Kebenaran Nalar :
- kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan)
- tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia namun sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan yang benar
- kebenarannya di dasarkan pada penyimpulan dedukti dan terdapat dalam logika dan matematika, bersifat mutlak
Thomas Aquinas punya pendapat berbeda lagi, dimana ada kebenaran ontologis dan kebenaran logis:
Kebenaran Ontologis :
- kebenaran yang terdaoat dalam kenyataan entah spitirutal atau material, meskipun ada kemungkinan untuk diketahui (tentang adanya Tuhan)
Kebenaran Logis :
- kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu dalam bentuk adnya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan
Lalu bagaimana dengan kedudukan kebenaran pengetahuan ?
Menurut pandangan Platonis : dalam Objek atau kenyataan yang diketahui sedangkan Aristotelian : dalam subyek yang mengetahui
Adapun menurut kaum eksistansial dimana kebenaran merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan. Namun kalau kebenaran ilmiah bersifat eskternal terhadap subyek, maka kebenaran eksistansial bersifat internal terhadap subyek.
Jadi pada intinya kebenaran sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya.
Adapun kesahihan dan kekeliruan yang seringkali terjadi dalam proses perolehan kebenaran. Namun perlu diperhatikan bahwa kekeliruan itu berbeda dengan kesahihan. Dimana kekeliruan menermia sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
Faktor yang memungkinkan terjadinya kekeliruan dan yang menyebabkan terjadinya kekeliruan :
1. kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat
2. menganggap bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya
3. kompleksitas atau kekaburan perkara yang menjadi persoalan
4. sikap terburu - buru dan kurang perhatian dalam prosesnya (tidak sistematis)
5. sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap gegabah
oiah sebelum saya benar - benar menutup post ini, saya ingat untuk menjawab pertanyaan yang saya berikan pada anda untuk anda pikirkan tentang kebenaran yang pasti, jadi jawabannya adalah kebenaran tidak ada yang benar dan pasti, Seperti Sokrates, selaku penganut skeptisime yang mengatakan bahwa " apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa - apa",juga kata - kata dari J.Wilkins & J.Glanvill yang mengatakan bahwa tak seorang pun manusia dapat meraih pengetahuan sempurna karena kemampuan manusia telah cacat dan juga kesimpulan dari filsuf - filsuf lainnya tentang masalah ini adalah generalisasi induktif bukan suatu proses berpikir tapi sekedar berharap dan argumen rasional falsafati yang tak terbatas dan manusia yang menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna.
Sumber : Powerpoint bahan kuliah dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
Sekian yang saya pelajari dalam kelas hari ini, semoga bisa dimengerti dan berguna bagi kalian semua ! :D
Sumber : Powerpoint bahan kuliah dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Nice, 80 ok
BalasHapusthanks mei ! :*
HapusWoennn blognyaa rapihhh + lengkap penjelasannyaa hahaha 86 deh buat kamuuu ;)
BalasHapuswah iya ? aku jadi tersipu. makasih yaaa :D mey cans
HapusBlognya lengkap banget nih, 95 buat Woen nih...
BalasHapusthanks banget salvian !
Hapuskomentar tambahan....95 for you
BalasHapuswah tinggi amat nilainya ? asik ! makasih susanthy :D
Hapus86 aku kasih :))
BalasHapusmakasih :) semoga berguna ya sahna
Hapusnice, nilai 85
BalasHapusmakasih :) semoga berguna ya
Hapus